Perahu Nelayan di KLU Hancur Disapu Ombak

Perahu nelayan di KLU yang hancur diterjang gelombang pasang. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Akibat air laut pasang pada Selasa, 22 Januari 2019 malam, sejumlah armada milik nelayan di KLU rusak parah. Perahu, sampan, boat hingga fastboat angkutan barang milik warga hancur akibat sapuan ombak.

Ketua Koperasi Nelayan Dusun Kerakas, Desa Genggelang, Ahmadi, kepada Suara NTB, mengakui kerusakan perahu di wilayah Kerakas mencapai 85 persen. Puluhan perahu milik 7 kelompok nelayan dan milik pribadi warga tidak ada yang selamat dari gempuran ombak pada Selasa malam.

Iklan

‘’Jenis alat yang rusak berat seperti jaring seret, kemudian alat penangkapan ikan kembung dan penangkapan ikan tongkol. Perahu pribadi milik saya sendiri juga hancur. Kalau mesin tidak ada yang rusak,’’ ujarnya.

Menurutnya, warga  Dusun Kerakas, 99 persen adalah nelayan. Kampung di pesisir Pantai Desa Genggelang ini dikenal sebagai produsen ikan terbesar se KLU. Sehingga dengan kerusakan armada ini, warga terancam menganggur. Selain itu, ketersediaan ikan yang selama ini disiapkan warga juga terganggu.

Menurut Ahmadi, 7 kelompok nelayan dan warga secara pribadi membutuhkan bantuan dana dari pemerintah untuk memperbaiki armada sampan. Diakuinya, pihak Dinas Perhubungan Kelautan dan Perikanan sendiri sudah turun mendata.

‘’Mudahan ada bantuan dari pemerintah, karena kalau berharap dari kelompok memperbaiki 100 persen tidak mungkin. Satu sampan butuh dana perbaikan minimal Rp 40 juta. Misalnya, untuk cendik saja, kami harus beli di Ampenan atau di Bali,’’ ujarnya.

Ia mengakui, pihaknya tidak bisa berharap dari kemampuan nelayan untuk memperbaiki sendiri armada milik pribadi maupun armada kelompok. Pasalnya, para nelayan juga harus memikirkan dampak kerusakan untuk keperluan konsumsi harian. Diperkirakan perbaikan armada membutuhkan waktu berbulan-bulan.

“Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nelayan sementara tidak melaut, ya kita harapkan dari tabungan. Saya percaya di Kerakas, untuk penghidupan satu – dua minggu, mereka masih bisa. Cuma bagaimana supaya nelayan bisa cepat beroperasi, itu saja,” ujarnya.

Di tempat terpisah, warga nelayan asal Dusun Mentigi, Desa Malaka, Agus, mengakui puting beliung dialami warga pesisir pantai setiap tahunnya. Hanya saja, kejadian kali ini yang paling merusak sarana dan prasarana warga. Air laut mengalami pasang hingga 50 meter ke daratan.

‘’Kalau dihitung kerugian, saya kurang tahu persisnya. Tapi yang jelas besar,’’ katanya. Dikuatkan warga asal Mentigi lain, Fikri, mengaku kerugian akibat puting beliung mencapai miliaran rupiah. Ia berhitung, setiap unit boat dan fastboat warga bernilai Rp 200 juta sampai Rp 300 juta, termasuk mesin.

‘’Kerusakan boat di Mentigi saja, sekitar 15-an yang rusak parah. Prediksi dana kerugian mencapai Rp 1 miliar. Karena masing-masing harga boat dan speedboat sekitar Rp 200 juta. Ada yang Rp 300 juta plus mesin,’’ sebut Fikri.

Diakuinya, pada malam saat kejadian warga hanya bisa menyaksikan masing-masing armada terombang ambing di hempas ombak ganas. Warga satu sama lain hanya bisa saling panggil, namun tak mampu berbuat banyak melihat armadanya hancur.

‘’Korban jiwa, Alhamdulillah tidak ada. Kami hanya bisa pasrah, dan berharap ada bantuan dari pemerintah,’’ harapnya.

Terpisah, Sekdis Perhubungan Kelautan dan Perikanan Lombok Utara, H. Samsul Rizal, mengaku pihaknya belum bisa memastikan jumlah perahu, sampan, boat dan fastboat milik warga yang rusak akibat bencana ini. Namun demikian, Dishub sudah menurunkan staf untuk mendata kondisi di lapangan.

‘’Kita sudah turunkan staf untuk mendata. Berapa jumlah perahu yang rusak akan kita himpun. Dari sana kita ajukan dana perbaikan melalui APBD Perubahan. Kita juga akan ajukan ke Kementerian,’’ sebutnya.

Selain data perahu, pihaknya juga akan menghimpun jumlah nelayan yang terdampak puting beliung. Rizal memprediksi, akan ada puluhan bahkan ratusan nelayan yang tidak bisa melaut dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. ‘’Kebutuhan konsumsi nelayan akan kita ajukan ke instansi tekait untuk ditangani,’’ tandasnya. (ari)