Penyelidikan Kasus Dermaga Apung Berlanjut

Dermaga apung di Kuta, Lombok Tengah, salah satu dari dua dermaga apung di kabupaten itu yang diusut Kejaksaan Tinggi NTB karena diduga menyimpang. (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Kasus dugaan penyimpangan dua dermaga apung di Lombok Tengah masih berkutat pada proses penyelidikan. Kejaksaan Tinggi NTB masih mendalami bukti dan keterangan saksi.

Namun kelanjutan penyelidikan proyek itu dipastikan tidak tuntas Desember 2018, meski prosesnya berlangsung sejak awal tahun lalu. Menurut Aspidsus Kejati NTB, Ery Ariansyah Harahap, SH, kasus memerlukan proses pemeriksaan saksi dan koordinasi dengan ahli auditor.  ‘’Masih, sampai sekarang masih penyelidikan. Masih lanjut,’’ kata Aspidsus.

Iklan

Kasus ini diambil alih Kejati NTB dari Kejari Lombok Tengah, diusut untuk dua objek. Dermaga apung di Kuta dan dermaga apung di Selong Belanak. Nilai proyek di dua titik itu, mencapai Rp5 miliar lebih.

Menurut Aspidsus, penyelidikan proyek itu berkaitan dengan spek pengadan yang diduga di-mark up. Namun nilai mark up dan komponennya tidak disebutkan. Pengerjaan dua fisik proyek dermaga itu memang sejak awal diduga tidak beres. Kontraktor pelaksana juga di-black list karena hingga jelang akhir tahun pekerjaan belum tuntas. Selain itu, kontraktor mencatut nama TP4D sebagai pendamping kegiatan.

Penyelidikan  kasus ini memang terkesan lamban. Dalam catatan sebelumnya, Pidsus Kejati NTB sempat menunda karena ada pemeriksaan oleh Inspektorat  setelah proyek dihentikan. Pemeriksaan untuk menentukan berapa nilai yang harus dibayar kepada rekanan pelaksana. Dari total Rp5 miliar, ada kekurangan volume sehingga pembayaran disesuaikan dengan pekerjaan.  Namun kini  penyelidikan kasus dilanjutkan lagi.

Sedikit mengulas, anggara proyek dermaga apung Kuta berasal dari Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (KDPDTT) tahun 2017. Total anggaran sekitar Rp3 miliar.

 

Sesuai kontraknya, pengerjaan dermaga harus tuntas di Desember 2017. Meski telah ditarget, proyek ini sempat molor. Bukan itu saja, ketika proyek baru berusia tujuh bulan usai dikerjakan, dermaga apung perlahan mengalami kerusakan.

 

Dana sebesar Rp3 miliar rupanya tidak membuat dermaga kokoh. Kerusakan terjadi pada pelat pengikat tiang pancang dengan pijakan apung. Tak lama, beton cor yang menghubungkan dermaga dengan darat ikut rusak.

 

Proyek ini dikerjakan PT CCA dan dihajatkan untuk tambatan perahu nelayan. Komponen, seperti, gelang pengikat, pontoon HDPE, tiang pancang, dan lampu penerangan, juga satu per satu mengalami kerusakan.

 

Kerusakan berawal ketika gelang dari bahan pelat robek dan putus karena tidak mampu menahan gelombang. Padahal, gelang berfungsi untuk menahan pontoon tetap fleksibel dan tidak lepas dari tiang pancang, ketika ada gelombang.

 

 Begitu juga dengan lampu penerangan yang sama sekali tidak berfungsi. Termasuk pondasi menuju dermaga yang jebol akibat terjangan ombak. Selain masuk ke Kejati NTB, proyek dermaga apung menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait kekurangan volume pekerjaan. (ars)