Penyediaan Huntap, Kunci Utama Percepat Pemulihan Ekonomi NTB

Firmansyah (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemulihan sektor ekonomi pascabencana gempa menghadapi persoalan yang kompleks. Ekonomi NTB tak akan pulih menjadi normal dalam satu sampai dua tahun.

Menurut Pemerhati Ekonomi Universitas Mataram (Unram), Dr. Firmansyah, M. Si, untuk  mempercepat pemulihan ekonomi NTB kuncinya ada dua. Pertama, mempercepat pembangunan atau penyediaan rumah bagi masyarakat korban gempa.

Iklan

‘’Terlebih persoalan hunian belum selesai. Sehingga ada ketertundaan pembelanjaan masyarakat pada jangka pendek dan menengah. Ini memukul daya beli masyarakat,’’ kata Firmansyah dikonfirmasi Suara NTB, Kamis, 15 November 2018 siang.

Dengan kondisi seperti sekarang ini, kata Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unram ini, masyarakat belum sepenuhnya bisa fokus mengembangkan usahanya. Ditambah lagi faktor eksternal, seperti nilai tukar rupiah maka akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.

‘’Tapi memang harus kita urai satu persatu persoalan ekonomi NTB ini. Tahapan demi tahapan perlu kita selesaikan. Misalnya, paling pokok masalah hunian, infrastruktur penduduung. Kemudian infrastruktur UMKM,’’ sarannya.

Ke dua, persoalan non infrastruktur ekonomi seperti relaksasi kredit bagi UMKM juga perlu dikoordinasikan oleh Pemda. ‘’Memang susah kita berharap rekonstruksi ekonomi bisa selesai jangka pendek dan menengah,’’ katanya.

Untuk itu, kata Firmansyah, geliat sektor pariwisata perlu dibangun. Pasalnya banyak UMKM yang bergerak dalam sektor pariwisata di NTB. UMKM yang memproduksi suvenir dan produk-produk sekunder.

Menurutnya, Pemda perlu melobi kementerian/lembaga untuk mengadakan kegiatan atau pertemuan-pertemuan di NTB. Dengan banyaknya kegiatan kementerian/lembaga yang dibawa ke NTB maka akan kembali menggairahkan sektor pariwisata.

‘’Kalau industrialisasi memang agak sedikit terhambat. Karena daya beli lemah, orang belum fokus bekerja. Jadi boro-boro masyarakat berbelanja produk yang lain. Produk pokok saja mereka harus irit. Saya pikir fokus mereka adalah perumahan. Ini yang jadi persoalan,’’ katanya.

Memulihkan ekonomi NTB, Pemda tak bisa jalan sendiri. Namun perlu diskusi dan duduk bersama dengan para pelaku usaha yang ada di daerah ini.  Di samping itu, OPD terkait juga harus duduk satu meja mencarikan solusi mempercepat pemulihan ekonomi pascabencana.

‘’Kondisi psikologis masyarakat kita sebelum dan sesudah gempa tentu berbeda. Perlunya intens berdiskusi dari hati ke hati dengan pelaku bisnis di NTB,’’ katanya.

Firmansyah mengatakan, fokus utama Pemda perlu segera menyediakan hunian yang layak bagi masyarakat korban gempa. Karena faktor hunian inilah yang menyebabkan masyarakat menunda pembelanjaan. Ketika dia menunda pembelanjaan, artinya menyebabkan gairah ekonomi lesu, daya beli menurun.

‘’Kalau daya beli menurun, bagaimana bisa berharap aspek produksi berkembang. Sektor produksi itulah tempat tenaga kerja, income dari rumah tangga berjalan. Saya kira tergantung. Kalau cepat hunian ini ditanggulangi, saya kira tak butuh waktu lama memulihkan ekonomi NTB,’’ ujarnya.

Pasalnya, bencana yang terjadi di NTB bukan banjir atau tsunami. Artinya, sektor produksi seperti lahan pertanian masyarakat masih dapat dimanfaatkan. Sehingga masyarakat masih bisa bekerja atau berproduksi.

‘’Mudah-mudahan dua tahun (ekonomi pulih), kalau hunian bisa cepat selesai. Recovery-nya tergantung huniann,’’ tandas Firmansyah. (nas)