Penyeberangan di Poto Tano Menurun 50 Persen

Suasana penyeberangan pelabuhan Poto Tano selama masa penularan wabah Covid-19 di NTB terlihat sepi. (Suara NTB/ils)

Taliwang (Suara NTB) – Aktivitas penyeberangan di pelabuhan Poto Tano mulai terdampak akibat wabah Covid-19 sejak mulai diberlakukannya masa siaga bencana non alam selama 169 hari. Bahkan aktivitas bongkar muat penumpang dan kendaraan menurun sebesar 50 persen jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Meskipun terjadi penurunan aktivitas di pelabuhan,  management menjamin tidak akan melakukan penutupan pelabuhan sebagai langkah antisipasi hal yang tidak diinginkan.

“Kita akui memang terjadi penurunan jumlah baik itu kendaraan maupun penumpang selama wabah Covid-19 melanda wilayah NTB. Bahkan dalam satu hari, kendaraan yang akan menyeberang bisa kita hitung jari dan itupun didominasi kendaraan barang sementara untuk penumpang sangat sedikit. Kendati demikian, kami pastikan tidak akan ada penutupan dermaga karena jika kita tutup dikhawatirkan akan menimbulkan masalah baru,” ungkap Supervisi ASDP pelabuhan Poto Tano Asairin  Solichin kepada Suara NTB.

Iklan

Dikatakannya, kebijakan untuk tidak melakukan penutupan karena banyak pertimbangan salah satunya akses pengiriman kebutuhan bahan pokok baik dari pulau Lombok maupun bahan pokok yang akan dikirimkan keluar pulau Sumbawa.

Kendati demikian, pihak terkait mengaku tetap menunggu perkembangan terbaru terkait wabah Covid-19 tersebut, jika kondisinya sudah sangat parah baru akan dilakukan penutupan dermaga. Dirinya juga tidak menampik banyak isu yang beredar di masyarakat saat ini terkait adanya informasi tidak benar yakni akan dilakukan penutupan dermaga oleh ASDP dalam menekan penyebaran Covid-19. Terhadap info masih tersebut, pihaknya memastikan isu tersebut tidak benar dan menyesatkan.

Bahkan tidak sedikit juga yang menelpon dan protes jika dilakukan penutupan lantaran barangnya sudah harus dikirim ke daerah lainnya. Kalaupun nantinya ditutup pasti akan diberikan himbauan terlebih dahulu supaya para pengguna jasa tidak ada yang kecewa. Tetapi untuk sementara ini, pihaknya memastikan tidak akan melakukan penutupan karena kebutuhan bahan pokok ini harus tetap tersalurkan.

“Memang sempat ada pengguna jasa yang mengklarifikasi ada atau tidaknya penutupan dermaga selama wabah Covid-19 dan mereka sangat keberatan jika ditutup. Kami pastikan informasi itu tidak benar dan dermaga masih tetap beroperasi secara normal,” terangnya.

Ditambahkannya, sebagai langkah antisipasi penyebaran virus tersebut saat ini pihaknya sudah membatasi para pedagang yang berjualan di atas kapal termasuk para pengamen. Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu antisipasi terhadap penyebaran virus tersebut. Pihaknya juga akan terus memantau kondisi terkini di lapangan, jika kondisinya sudah sangat parah maka aktivitas penyeberangan akan dihentikan sementara waktu.

Sementara jumlah kapal yang beroperasi saat ini masih normal sebanyak delapan unit yang siap beroperasi. Hanya saja untuk saat ini waktu bongkar dan muat kapal diperpanjang dari biasanya 25-30 menit menjadi 40-50 menit per kapal. Hal itu dilakukan untuk menjamin kapal yang akan berangkat tetap dalam kondisi yang berpenumpang tidak kosong.

“Jumlah kapal yang beroperasi memang tidak kita kurangi sebanyak delapan kapal per hari. Hanya saja yang berubah waktu sandarnya yang panjang dari kondisi biasa dan itu kira anggap normal sesuai kondisi yang ada saat ini,” pungkasnya. (ils)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional