Penyebaran Covid-19 Melandai

Nyoman Swandiasa. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Melandainya kasus virus corona (Covid-19) di Kota Mataram diharapkan menjadi tren positif, menyusul dengan tidak adanya penularan selama beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut diharapkan membantu ibu kota provinsi tersebut masuk dalam zona hijau penularan virus.

“Kita memang melihat tren pelandaian kasus ini sudah terjadi selama lima hari ini untuk nol kasus. Dan ini menjadi komitmen kita untuk tetap mempertahankan tren ini,” ujar Juru Bicara Satgas Covid-19 Kota Mataram, I Nyoman Suwandiasa saat dihubungi Suara NTB, Jumat, 30 Oktober 2020.

Iklan

Salah satu upaya yang terus dilakukan menurutnya adalah penerapan razia masker sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) NTB Nomor 7/2020 dan Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 34/2020. “Kita tetap melakukan razia di beberapa tempat, kemudian mengecek kegiatan-kegiatan masyarakat supaya tetap mengikuti protokol kesehatan. Ini intens kita lakukan sebagai salah satu upaya kita dari satgas untuk melandaikan Covid-19 di Kota Mataram,” jelasnya.

Kendati demikian, beberapa momen yang terjadi hingga saat ini dikhawatirkan mejadi klaster tersendiri untuk penularan baru di Kota Mataram. Antara lain demonstrasi mahasiswa menolak Undang-Undang (UU) Cipta Kerja Omnibuslaw, libur panjang Oktober, dan Pilkada 2020.

Sebagai antisipasi munculnya klaster baru dari demonstrasi penolakan UU Cipta Kerja Omnibuslaw, Satgas Covid-19 Kota Mataram berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 Provinsi NTB untuk melakukan pendekatan terhadap masing-masing Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang mengakomodir demonstran.

“Satgas Provinsi sudah melakukan pendekatan dengan bersurat ke BEM yang kemarin terlibat aksi, dan ini sudah direspon positif oleh masing-masing BEM untuk melakukan rapid test bagi peserta demo. Sudah dilakukan rapid test terhadap mereka, dan memang kita belum tahu hasilnya seperti apa. Kita tunggu saja,” ujar Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Mataram tersebut.

Selanjutnya untuk potensi klaster dari libur panjang Oktober disebutnya perlu menjadi perhatian besama. Baik dari pemerintah, pengelola destinasi wisata, dan masyarakat sendiri yang memanfaatkan waktu liburan tersebut. Hal paling utama yang perlu diawasi menurut Nyoman adalah kerumunan massa di tepat wisata yang dapat meningkatkan potensi penularan.

“Seperti yang sudah kita sampaikan, posko-posko statis di berbagai tempat wisata sudah dilaksanakan dengan melibatkan pihak kecamatan, kelurahan, Pol PP, Kepolisian dan TNI untuk selalu mengecek dan mendisiplinkan masyarakat yang berkunjung ke tempat-tempat wisata untuk selalu mempedomani protokol kesehatan,” ujarnya.

Pihaknya menekankan kapasitas kunjungan tempat wisata sampai saat ini tidak boleh melebihi 50 persen. Kendati demikian, berdasarkan pantauan pihaknya disebut belum terjadi kerumunan massa yang lebih dari persentase tersebut di masing-masing tempat wisata yang ada di Mataram.

Untuk potensi klaster dari proses Pilakada 2020 diharapkan dapat terakomodir melalui penerapan Pilakada sehat seperti yang pernah dideklarasikan oleh keempat pasangan calon. “Ini juga selalu kita pantai, dan kita bersyukur semua sudah dipedomani oleh masyarakat,” jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, Kota Mataram diharapkan dapat memenuhi 17 parameter yang menjadi syarat untuk masuk dalam zona hijau penyebaran Covid-19. Di mana penurunan jumlah kasus positif, penurunan jumlah kematian, dan peningkatan jumlah pasien sembuh harus dipertahankan hingga sepekan kedepan.

“Jadi kita harus terus lihat trennya seperti apa. Kalau tetap positif, baru kita bisa bergeser ke zona hijau. Itu yang harus kita penuhi dulu,” ujar Nyoman.

Sebagai informasi, sampai dengan 30 Oktober 2020 suspek Covid-19 di Mataram tercatat nol kasus. Sejak pertama kali menyebar, Covid-19 sendiri telah menjangkiti 1.239 orang di Mataram. Rinciannya 1.117 orang dinyatakan sembuh, 34 orang masih menjalani isolasi, dan 88 orang meninggal dunia. (bay)