Penyakit Komplikasi Jantung, Keluarga Balita Miskin Tak Mampu Bayar Biaya Berobat

RAWAT - Kondisi balita Muhammad Rio Agustino asal Buwun Mas yang masih dirawat di Rumah Sakit Gerung. Keluarga mengaku tak mampu membayar biaya berobat di rumah sakit. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB)  – Raut wajah M. Sukriawan terlihat sedih. Pria asal Dusun Eyat Bau Desa Buwun Mas Kecamatan sekotong ini tampak lelah mengurus perawatan balita bernama Muhammad Rio Agustino (2 bulan). Muhammad Rio Agustino, divonis mengalami penyakit komplikasi jantung dan pneumonia.

PRIA yang berprofesi sebagai buruh ini pontang panting mencari pinjaman untuk memenuhi biaya selama menunggu anaknya yang dirawat di Rumah Sakit Tripat Gerung yang sudah memasuki hari ke 14. Belum lagi ia terbebani dengan biaya berobat yang harus dibayar Rp12 juta di RSUD Tripat. Untungnya ia memperoleh dana bansos dari Pemda sebesar Rp 5 juta untuk membayar sebagian biaya berobat balitanya yang baru berusia dua bulan lebih.

Iklan

Ditemui di ruang ICU RSUD Tripat pagi kemarin, ia bersama istri dan ibunya tengah menunggu di luar ruangan ICU tempat di mana balitanya dirawat. Ia menuturkan, balitanya lahir tanggal 4 Agustus sehari sebelum gempa melanda Lombok. Ketika dilahirkan, anaknya dalam kondisi prematur dengan usia 7 bulan di kandungan. Hampir dua pekan lalu, anaknya tiba-tiba mengalami kejang. Ia pun membawa balitanya ke Puskesmas Sekotong. Hanya beberapa jam dirawat di puskesmas dirujuk ke Rumah Sakit Tripat Gerung. Di rumah sakit, balitanya langsung masuk ke IGD lalu dibawa ke ruang perawatan Irna Anak.

Setelah diperiksa pihak medis memberitahukan jika balitanya sakit pneumonia dan jantung. Sehingga selang dua jam masuk ke Ruang Perawatan Irna Anak, kondisinya balitanya memburuk, sehingga pihak medis pun membawa balitanya ke ICU. ” Kata dokter setelah diperiksa anak saya sakit pada jantung dan sesak (pneumonia),”jelasnya. Bahkan ketika ditangani balitanya napasnya sempat hilang, sehingga diberikan alat bantu.

Balitanya sudah hampir dua pekan berada di rumah sakit, saat ini kondisinya sudah mulai membaik dan kemungkinan dibawa kembali ke ruang perawatan. Namun, saat ini kebingungan bagaimana menanggulangi pembayaran biaya perawatan balitanya. Ia mengaku empat hari setelah dirawat di rumah sakit, pihak keluarga mengurus bansos ke Pemda dan ia pun dibantu Rp 5 juta untuk biaya pengobatan. Namun ada sisa sekitar 6-7 juta dari biaya yang diberitahukan pihak rumah sakit Rp 13 juta. Pihak keluarga juga telah menguruskan BPJS, namun belum aktif, sebab baru dibuat empat hari lalu. Ia berharap tak dibebani biaya dan bisa ditanggung oleh BPJS.

Sebab ia sendiri hanya sebagai buruh bangunan dengan penghasilan Rp 70 ribu per hari. Itupun ia menjadi buruh di Bali, belum dipotong biaya makan dan kos-kosan. Per bulan ya hanya bisa membawa pulang uang Rp 1,5 juta. Ia sendiri tak lulus SMA, sebab baru kelas dua ia berhenti sekolah lantaran terkendala biaya. “Untuk makan sehari-hari selama menunggu anak saya saja, saya pinjam dulu ditetangga. Belum lagi Bapak saya mengalami sakit, pernah dioperasi sekali,” akunya.

Sementara itu Dirut RSUD Tripat Gerung drg. Arbain Ishak mengatakan, pihak rumah sakit tak akan membebankan biaya berobat kepada pihak keluarga kalau sudah ada BPJS. Meski belum aktif sebab menunggu 14 hari, menurutnya tidak masalah sebab pihak rumah sakit akan menunggu pembayaran dari BPJS. “Kami tidak akan pungut biaya berobat,”jelas Arbain. Kalaupun nanti belum ada kartu Jamkesmas, pihaknya akan meminta agar keluarga menguruskan. (her)