Penurunan Pertumbuhan Ekonomi di Mataram Mengkhawatirkan

Lalu Wiresapta Karyadi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemkot Mataram harus mencari di sektor mana saja terjadinya pelambatan pertumbuhan ekonomi di Kota Mataram. Karena pelambatan pertumbuhan ekonomi Kota Mataram mencapai 1,69 persen.

‘’Ini adalah penurunan yang cukup tinggi,’’ kata Anggota Tim Ahli Pembahasan LKPJ Walikota Mataram akhir tahun anggaran 2018 Prof. Dr. Lalu Wiresapta Karyadi, M.Si., pekan kemarin.

Iklan

Tim ahli memandang menurunnya pertumbuhan ekonomi Kota Mataram sebagai sesuatu yang serius. ‘’Apabila teledor sedikit saja, Pemkot Mataram tidak memperhatikan di mana sih yang menyumbang terhadap penurunan ini. Tidak dilihat secara seksama, maka bisa jadi pada tahun berikutnya, lubang-lubang kebocoran semakin menganga,’’ terangnya.

Prof Karyadi juga menyinggung soal pengangguran terbuka di Kota Mataram. ‘’Ini mudah memang kita ucapkan, kita tuliskan, tapi mengatasinya cukup sulit,’’ cetusnya.

Menurut dia, pengangguran terbuka meningkat 5,35 persen menjadi 6,72 persen kalau tidak diantisipasi, hal ini juga berpotensi menjadi kerawanan sosial. Untuk menurunkan angka pengangguran, tim ahli merekomendasikan kepada Pemkot Mataram untuk meningkatkan kesempatan kerja melalui pembukaan lapangan kerja dan kesempatan berusaha.

‘’Bagaimana caranya sekarang kita untuk memperkuat komitmen di tingkat eksekutif agar ada kemauan untuk meningkatkan porsi belanja langsung dibandingkan belanja tidak langsung,’’ terangnya. Meskipun di Pemkot Mataram secara penganggaran sudah cukup proporsional, namun harus ada upaya masing-masing OPD berkomitmen meningkatkan belanja program.

Karena berdasarkan dokumen LKPJ, diketahui telah terjadi penurunan pendapatan Kota Mataram sebesar 0,04 persen dari Rp1,407 triliun menjadi Rp1,400 triliun. Penurunan ini tidak bisa menjadikan gempa bumi yang terjadi bulan Agustus sebagai alasannya.

‘’Karena tahun berjalan ini sudah berlangsung kurang lebih delapan bulan,’’ demikian Prof Karyadi.

Karena kalau gempa yang dijadikan kambing hitam terkait sejumlah penurunan ini, jelas tidak logis. ‘’Nah ini hidden faktornya yang perlu dicermati,’’ cetusnya.

Kelemahan Kota Mataram, bahwa sebagian besar penghasilan menurun masih didominasi oleh DAK dan DAU. Artinya, ketika DAK dan DAU menurun, kita belum bisa mandiri,’’ ungkapnya. Karena lanjut, kepala BPS Kota Mataram Isa Anshori, SE., MM., pihaknya melakukan survei setiap bulan Maret tahun berjalan.

Untuk itu harus ada inovasi berupa pembukaan lapangan kerja dan kesempatan berusaha yang benar-benar mengedapankan kearifan lokal. Contohnya kerajinan cukli yang menjadi ikon Kota Mataram. (fit)