Penurunan Harga Tiket Pesawat Tidak Pengaruhi MICE

Nur Haedin. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Penurunan harga tiket pesawat hingga 50 persen untuk mengantisipasi dampak penyebaran virus corona dinilai tidak akan berpengaruh banyak terhadap peningkatan kunjungan wisatawan di NTB. Khususnya untuk kegiatan Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) di hotel-hotel.

Ketua Indonesian Congress and Convention Association (INCCA) NTB, M. Nur Haedin, menerangkan bahwa sebagian besar kegatian MICE yang ada di NTB merupakan kegitaan-kegiatan yang berasal dari pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). “Penurunan harga tiket pesawat itu tidak ada pengaruhnya kalau untuk MICE,” ujarnya, Jumat, 28 Februari 2020, saat dikonfirmasi Suara NTB.

Iklan

Ada beberapa alasan untuk situasi tersebut. Di antaranya anggaran yang terbatas bagi pemerintah untuk melaksanakan MICE di luar daerah yang sangat dipengaruhi sistem pelaporan dan administrasi, dan fasilitas MICE di NTB yang masih tergolong minim.

“Kita ini tidak punya hall (aula). Yang paling besar itu di Lombok Raya untuk 2.000 orang. Kalau di luar itu sudah sampai 4.000 orang (kapasitas ruang pertemuannya),” ujar Haedin. Di sisi lain, untuk pasar MICE dari perusahaan disebut Haedin lebih cenderung memilih kegiatan di luar negeri seperti Malaysia atau daerah lainnya seperti Bandung, Surabaya, dan Bali. “Kita ini masih tergolong mahal,” sambungnya.

Diterangkan Haedin, dengan turunnya harga tiket pesawat tidak serta merta membuat pelaku usaha pariwisata dapat menurunkan harga untuk akomodasi lainnya. “Teman-teman tidak bisa juga serta-merta membanting harga, karena dampak corona ini memang cukup besar. Terlebih ini masih low season,” ujarnya.

Untuk mendongkroak kunjungan wisatawan, terutama untuk kegiatan MICE, disebut Haedin perlu usaha-usaha khusus, yaitu kolaborasi antara pemerintah daerah dan pelaku industri parwisisata. Selain itu, target pasar diharapkan bukan lagi menyasar kegiatan dari pemerintah dan BUMN, melainkan dari perusahaan-perusahaan.

“Kalau dari pemerintah dan BUMN itu sebenarnya pelaku usaha susah mencari untung, karena anggaran mereka memang terbatas. Kalau bicara MICE, harusnya ya korporasi-korporasi swasta,” ujarnya. Untuk itu pemerintah daerah, dalam hal ini Pemprov NTB, diharapkan dapat mengeluarkan regulasi dan kebijakan yang dapat memancing peningkatan MICE di NTB.

Sepanjang 2020, kegiatan MICE di NTB disebut masih pada persentase 30 persen. Jumlah tersebut tergolong kecil jika dibandingkan persentase sebelum gempa 2018 yang mencapai 65 persen. “Kita berharap pemerintah segera membuka regulasi yang menarik investor masuk ke NTB (membangun fasilitas MICE),” ujarnya.

Bagi Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Anita Achmad, menerangkan penurunan harga tiket pesawat tidak bisa dijadikan komponen utama untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Hal itu butuh dukungan dari komponen lainnya seperti hotel dan agen perjalanan.

“Kalau cuma tiket pesawatnya yang turun, tapi hotel-hotel masih mahal, tidak bisa juga,” ujar Anita, Jumat, 28 Februari 2020. Di sisi lain, untuk memberikan harga yang representatif pihak hotel disebut membutuhkan dukungan dari pemerintah, khususnya untuk keringanan pajak.

Dicontohkan Anita seperti harga kamar hotel di Kota Mataram yang belum dapat bersaing dari segi penawaran jika dibandingan di daerah lain. “Kita ini masih biasa saja. Padahal persaingan itu bukan hanya untuk di lokal, tapi sampai luar daerah,” ujarnya.

Dalam menyesuaikan potongan harga, pelaku industri disebut memiliki banyak pertimbangan. Di antaranya komponen pembayaran pajak dan pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari. “Sekarang kalau pajaknya tinggi, dan kebutuhan pokok juga tinggi, hotel-hotel pasti susah menyesuaikan harga,” ujar Anita.

Untuk itu, pemerintah melalui stakeholder dan lembaga terkait bersama-sama dengan pelaku industri parwisiata disebut perlu membangun sinergi. Khususnya dalam menentukan strategi promosi yang memberikan penawaran representatif untuk menarik wisatawan datang ke NTB. (bay)