Pengusaha Spanyol Cari Kopi ke NTB

Mataram (Suara NTB) – Pengusaha kopi spanyol sedang ekspasi ke berbagai daerah penghasil kopi, salah satunya NTB. Menyusul terpuruknya produksi kopi di Brazil.

Untuk mengisi kebutuhan, pengusahanya bahkan turun langsung jemput bola ke berbagai sentra produksi kopi.

Iklan

“Kopi Arabika sedang sangat dicari. Pembelinya yang dari Spanyol bahkan turun langsung. Produksi kopi dalam negeri mau disapu besih (dibeli),” kata Manajer Pengelola Kantor Perwakilan Dagang Jawa Timur di Mataram, Ir. Bing Gianto.

Sebelumnya, Bing Gianto memastikan dampak teror bom di Surabaya beberapa waktu lalu, tidak sedikitpun mempengaruhi aktivitas perdagangan dan bisnis, antara pengusaha Jawa Timur dengan NTB. Permintaan komoditas sejauh ini belum menyusut. Masih baik-baik saja, katanya.

Dari sana juga mengemuka permintaan kopi yang cukup besar dari Spanyol. Tingginya permintaan luar negeri ini bahkan mengerek harga jual kopi robusta yang tadinya hanya Rp 40.000/Kg, naik menjadi Rp 65.000/Kg. Bing Gianto menyebut, petani-petani kopi dibina, bahkan ada yang beli dengan cara ijon.

“Belinya sudah tidak lagi perkilo. Sudah menghitung beli perpohonnya langsung,” jelas Bing Gianto.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, kopi Arabika berkembang di Lombok Timur dan Kabupaten Sumbawa. Dengan luas aeral mencapai 1.804 hektar. Dengan total produksi 291,27 ton.

Sementara kopi robusta, tersebar di semua kabupaten/kota di NTB, kecuali Kota Mataram. Dengan total luas lahan mencapai 10,174 hektar, produksinya mencapai 4.573 ton.

Dengan masifnya permintaan kopi ini, Bing Gianto mengatakan, jika di lakukan b to b (temu dagang), tak banyak yang diharapkan.

“Karena sudah dibeli duluan sama pengusaha. Kalaupun dilaksanakan b to b, yang dijual hanya sisa-sisa,” ujarnya.

Kopi adalah salah satu komoditas perkebunan yang diunggulkan di NTB. Tidak saja kopi, produk-produk unggulan sumber daya alam NTB, jagung, rumput laut, menjadi incaran para pengusaha. Mereka datang langsung ke petani, tanpa perantara pengusaha lokal.

Ini menurut Bing Gianto, di satu sisi dapat mematikan pengusaha-pengusaha lokal yang selama ini menjadi jembatan.

Karena itulah, dengan tingginya permintaan ini, melalui mekanisme b to b, dapat dikendalikan permintaan pembeli dari luar. Sehingga hasil produksi tidak sepenuhnya diboyong ke luar, tanpa mempertimbangkan permintaan dalam daerah (dalam negeri). (bul)