Pengurangan Tagihan Listrik Rusunawa Ditolak

Sejumlah anak penghuni Rusunawa Mandalika bermain di areal parkiran, Rabu, 15 Juli 2020. Pengajuan pengurangan tagihan listrik rusunawa di Kota Mataram ditolak. Untuk menutupi kebutuhan pengelola rusunawa harus mengurangi biaya pemeliharaan lainnya. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kota Mataram telah mengajukan pengurangan tagihan listrik rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) di Kota Mataram. Namun, perusahaan listrik negara (PLN) menolak permohonan tersebut.

“Kita sudah minta pengurangan pembayaran di PLN tapi tidak ada kebijakan pengurangan, karena ini bisnis,” kata Kepala Dinas Perkim, H. M. Kemal Islam dikonfirmasi, Selasa, 14 Juli 2020.

Iklan

Pertimbangan pengajuan kompensasi itu, dikarenakan pengelola rusunawa tidak bisa memaksa warga hunian untuk memaksimalkan biaya sewa. Rata – rata mereka terdampak akibat penyebaran wabah virus Corona. Di satu sisi disampaikan Kemal, biaya sewa ditarik selama ini dipergunakan untuk biaya pemeliharaan dan termasuk biaya listrik. “Penghuni rusunawa tidak ada penghasilan. Kita legowo saja,” terangnya.

Pandemi Covid-19 berdampak terhadap sosial dan ekonomi masyarakat. Pemkot Mataram harus mengambil sikap dengan memberikan stimulus ekonomi di masa pandemi saat ini. Artinya, pihaknya mengedepankan fungsi sosial.

Di satu sisi dikatakan Kemal, kebutuhan listrik tidak bisa ditunda. Artinya, penghuni rusunawa harus tetap menikmati fasilitas tersebut. Karena ada kebutuhan penerangan, memasak dan lain sebagainya. Tagihan beban listrik harus dibayarkan satu twin blok Rp7 juta. “Iya, kita paham juga mungkin kondisi dari PLN juga,” ucapnya.

Untuk memenuhi tagihan beban listrik tersebut, pihaknya mencari cara agar penghuni rusunawa tetap menikmati fasilitas listrik. Salah satunya adalah mengurai biaya pemeliharan. Pengelola rusunawa diminta lebih memprioritaskan pemeliharaan yang sifatnya mendesak dan penting.

Kalaupun terjadi kebocoran pipa air memang tidak bisa ditunda dan mesti segera diperbaiki. Perbaikan pun membutuhkan biaya besar, sehingga dibutuhkan swadaya dari penghuni rusunawa. “Suka tidak suka harus diperbaiki. Caranya adalah dengan cara swadaya,” demikian kata Kemal. (cem)