Pengungsian Diterjang Banjir , Warga Tak Bisa Tidur, Perabotan dan Beras Hanyut

TERGENANG AIR - Korban gempa di Desa Kekait Gunungsari yang tinggal di huntara mengeluh tak bisa tidur akibat tergenang air. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Kondisi korban gempa yang tinggal di tenda-tenda darurat dan hunian sementara (huntara) di Lombok Barat (Lobar) begitu memprihatinkan. Pasalnya, ketika hujan melanda lokasi pengungsian mereka terendam banjir. Akibatnya mereka tak bisa tidur di tenda maupun huntara, mereka pun terpaksa berjaga-jaga di tengah genangan air. Perabotan, pakaian dan logistik berupa beras yang disimpan di tenda pun tak luput dari genangan. Bahkan beras milik korban gempa hanyut, sehingga tak bisa dikonsumsi lagi.

Pantauan koran ini di lokasi huntara Dusun Kekait Desa Kekait Kecamatan Gunungsari, sekitar 151 unit huntara yang dibangun di tanah lapang di daerah setempat hampir semua terkena dampak banjir. Banjir yang berasal dari kiriman air saluran yang berlokasi di atas lokasi terjadi sejak pertama hujan sepekan lalu. Bahkan sempat ketinggian  banjir mencapai 1 meter ketika hujan deras.

Iklan

Kondisi di lokasi huntara ini tergenang, berlumpur akibat terendam air. Warga pun tak bisa leluasa keluar masuk, bahkan warga yang tak tahan dengan kondisi ini terpaksa berada di luar huntara sembari menunggu waktu malam tiba. “Kami tidak bisa tidur sejak seminggu terakhir, karena air masuk ke dalam huntara, semua perabotan dan beras kami hanyut,” tutur Hj. Zakiah warga Dusun Kekait saat ditemui di lokasi pengungsian, Kamis,  8 November 2018.

Ia menuturkan, banjir pertama terjadi pada saat hujan Kamis pekan lalu. Air masuk ke huntara, sehingga wargapun tak tahu ke mana harus evakuasi diri.  Genangan air disebabkan selain intensitas hujan tinggi, juga akibat bangunan huntara tak dilengkapi saluran pembuangan. Lebih parahnya lagi huntara ini tak memiliki pondasi. Huntara hanya dibangun di atas rabat yang langsung dilepas begitu saja di atas tanah lapang tersebut. Kini warga pun dirundung rasa was-was ketika hujan, sebab setiap saat air masuk ke dalam hunian mereka.

Akibat kondisi ini, jelasnya, sudah banyak warga yang diserang penyakit gatal-gatal. Belum lagi ditambah perabotan dan beras bekal mereka untuk dimasak beberapa hari ke depan ikut hanyut. Sementara mereka tak punya mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Untuk makan sehari-hari korban gempa yang kehabisan beras, sama-sama beli nasi untuk dimakan bersama, itupun dengan lauk seadanya.   Korban gempa mengeluhkan ketidak jelasan bantuan stimulan perbaikan rumah dan jaminan hidup. Padahal sudah hampir 4 bulan  mereka tinggal di pengungsian, sekedar kabar saja belum ada kejelasan. Diakui, sejauh ini belum semua nama korban gempa yang ada di daerah itu keluar namanya. Banyak di antara korban gempa yang tak masuk namanya, sehingga menambah kegundahan mereka.

Mereka mendesak agar ada titik terang soal bantuan tersebut, terutama jaminan hidup (jadup) yang dijanjikan oleh pemerintah sebesar Rp 10 ribu per hari. “Jadup belum ada juga sedangkan kondisi begini kami ndak bisa kerja. Rumah tidak ada, punya huntara namun terpendam,” keluhnya.

Sementara itu, Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lobar, Hartono Ahmad tidak membantah masih ada beberapa warga di tenda pengungsian. Jumlahnya sekitar 3.115 Kepala Keluarga (KK) atau 9.345 jiwa tersebar di empat kecamatan terdampak gempa, yaitu Kecamatan Narmada, Lingsar, Batulayar dan Gunungsari.

Atas kondisi itu, BPBD sudah mengimbau kapada warga untuk sementara pindah kepada rumah sanak keluarga yang tidak terlalu berdampak gempa. Di samping pihaknya berupaya mencarikan bantuan huntara  demi mengatasi musim penghujan tiba hingga menunggu selesainya pengerjaan pembangunan bantuan rumah dari pemerintah. (her)