Pengungsi Pondok Perasi Khawatir Banjir di Huntara

Dua orang warga Pondok Perasi yang direlokasi ke hunian sementara Pondok Pelangi bersantai di depan blok-blok huntara yang disiapkan Pemkot Mataram, Minggu, 25 Oktober 2020.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Memasuki musim hujan tahun ini, bahaya banjir dan demam berdarah menjadi momok yang dikhawatirkan warga Lingkungan Pondok Perasi, Ampenan. Pasalnya, sejak direlokasi pada Desember 2019 lalu, puluhan nelayan yang direlokasi ke tempat penampungan tersebut masih bertahan di hunian sementara (huntara) Pondok Pelangi yang dibangun Pemkot Mataram.

“Kalau banjir permanen kita belum alami selain waktu di tenda dulu, yang sampai selutut itu. Sekarang ini kita khawatir bulan 11-12 (November – Desember) ini, karena kita di hulu sungai,” ujar salah satu warga Lingkungan Pondok Perasi, Muksin, saat ditemui Suara NTB, Minggu, 25 Oktober 2020.

Iklan

Dicontohkan, pada awal menempati huntara yang dibangun pemerintah tersebut potensi genangan cukup tinggi. Di mana blok-blok huntara yang disiapkan hampir terendam genangan akibat intensitas hujan yang cukup tinggi.

“Sekarang memang belum ada (banjir), tapi kita takut juga karena hujan terus turun dan ombak besar,” ujar Muksin. Di sisi lain, huntara yang berdinding asbes juga dikhawatirkan rusak akibat hujan atau terkena rendaman air. “Kita berharap mudah-mudahan tidak terjadi. Kalau bisa ada pengerukan supaya (level tanah) ini naik,” sambungnya.

Warga lainnya, Abdul, menerangkan masalah banjir memang menjadi momok utama. Terutama berkaitan dengan masalah kesehatan yang menghantui warga yang bertahan di huntara tersebut.

“Kita takutkan air ini saja. Karena kalau sudah bajir, jelek airnya di sini. Kita bisa gatal-gatal,” jelas Abdul. Menurutnya, pontensi banjir yang disebabkan hujan lebat memang menghantui huntara tersebut. Terlebih pada awal tahun lalu seluruh blok yang ada hampir terendam air karena hujan deras.

“Sudah seperti kolam di sini waktu itu. Lagi sedikit bisa masuk rumah. Itu waktu baru saja jadi (Huntara Pondok Pelangi). Dua bulan kita tempati, malah bajir karena hujan besar,” ujarnya. Dengan posisi huntara yang berdekatan dengan hulu sungai Meninting, dirinya berharap Pemkot Mataram melakukan upaya pencegahan untuk potensi banjir tersebut.

Menurut Abdul, antisipasi banjir perlu dilakukan melihat kaitannya dengan kesehatan penghuni huntara. Terutama untuk mencegah terjadinya demam berdarah dengue (DBD), diare, dan lain-lain. “Alhamdulillah sekarang belum ada yang kena (DDB) itu, karena penyemprotan terus dilakukan kurang lebih sudah tiga kali. Baik dari kelurahan, kecamatan, dan pemkot,” ujarnya.

Di sisi lain, pihaknya mengapresiasi upaya Pemkot Mataram untuk menjamin kesehatan masyarakat. Terutama dengan pengecekan rutin yang dilakukan tim kesehatan dari Puskesmas sebagai bentuk kepedulian pemerintah.

“Kalau masalah kesehatan dan lain-lain itu kita sangat berterimakasih pada pemerintah, terutama setelah kita direlokasi ke sini, kita diberikan hunian,” jelas Abdul. Kendati demikian, pihaknya sampai saat ini masih berharap adanya program penyediaan hunian tetap bagi warga Pondok Perasi yang direlokasi.

Menurutnya, masalah utama bagi penghuni Pondok Pelangi adalah tidak adanya privasi di masing-masing blok yang ada. Padahal ada 40 kepala keluarga (KK) atau sekitar 160 orang yang menetap di huntara tersebut.

“Kita masih tunggu itu, bagaimana caranya supaya ada rumah permanen. Karena satu blok ini untuk 1 KK, bisa 4-6 orang, jadi kita tidak bisa apa-apa,” ujar Abdul. (bay)