Pengungsi Gunung Agung di Lombok Pilih Tinggal Bersama Keluarga

Mataram (suarantb.com) – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, Mohammad Rum menyatakan pengungsi akibat letusan Gunung Agung ke Lombok umumnya merupakan pengungsi mandiri. Mereka memilih untuk tinggal bersama keluarganya di Lombok.

“Jadi saya melihat gelombang pengungsi hari pertama dan kedua ini sifatnya mandiri sebagaimana sebelum-sebelumnya. Jadi mereka sudah ada tempat penampungan di keluarga masing-masing,” ungkap Rum, Selasa, 28 November 2017.

Iklan

Untuk jumlah pengungsi, Rum menyebutkan berdasarkan hasil pendataan BPBD NTB dengan membangun tenda di Pelabuhan Lembar Lombok Barat, baru tercatat ada empat kepala keluarga (KK) yang melaporkan diri. Dan keempatnya telah ditampung oleh keluarga masing-masing.

“Tadi malam setelah kita membangun tenda di Lembar, baru empat keluarga yang mendaftar. Saya nggak bisa memastikan yang 2 ribu orang itu. Tapi itu memang informasi dari ASDP Lembar,” jelas Rum.

Terkait potensi terjadinya lonjakan jumlah pengungsi dari Bali ke Lombok, Rum mengemukakan BPBD bersama pihak terkait, seperti Dinas Sosial, Dinas Perhubungan, TNI dan Polri telah mempersiapkan lokasi pengungsian. GOR Turida, Asrama Haji dan Gelanggang Pemuda Mataram akan dijadikan lokasi pengungsian korban letusan Gunung Agung.

“Tapi kami memberikan keleluasan, bagi para pengungsi mandiri tadi silakan mereka di rumah keluarga masing-masing. Tapi kami siap jika ada gelombang pengungsi besar,” tambahnya.

Status Gunung Agung saat ini ditambahkan Rum masih dalam status awas. Abu vulkanik masih terus-menerus menyembur dari kawah Gunung Agung dengan ketinggian 3.000-4.000 meter. Untuk antisipasi sebaran abu vulkanik di wilayah NTB, khususnya Lombok Rum mengaku telah dilakukan distribusi masker di wilayah Mataram dan Lobar.

“Kami sudah suplai 4 ribu masker ke Mataram dan 8 ribu ke Lobar. Kita minta juga agar BPBD Kota Mataram, KLU dan Lobar agar menyiapkan masker masing-masing,” lanjutnya. (ros)