Penggunaan SKA Luar Pengaruhi Neraca Perdagangan NTB

Ilustrasi komoditas pertanian.(Gambar oleh Peter H dari Pixabay)
top ads

Mataram (Suara NTB) – Penggunaan Surat Keterangan Asal (SKA) daerah lain untuk menjual produksi manggis NTB dapat merugikan. Pasalnya, nilai ekspor yang didapat dari komoditas tersebut tidak akan masuk ke NTB, melainkan ke daerah.

‘’Itu jelas merugikan. Karena SKA-nya dari jual, jadi keuntungan ini disembunyikan oleh daerah (asal SKA) tersebut,’’ ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Ekspor Indonesia (Apec) NTB, Anhar Tohrie, Senin, 18 Mei 2020.

Iklan

Dicontohkan Anhar seperti ekspor manggis NTB senilai Rp6 miliar yang dilakukan dengan SKA Bali. Dengan begitu, nilai ekspor sebesar Rp6 miliar justru masuk menjadi hasil produksi Bali. Terlebih untuk tahun ini ekspor dilakukan dari beberapa provinsi lainnya di Indonesia.

Menurutnya, kondisi tersebut telah menjadi atensi Apec sejak lama. Apalagi dengan kualitas manggis NTB memiliki potensi untuk dijual langsung oleh perusahaan-perusahaan yang ada. ‘’Sudah sering kita bahas permasalahannya. Karena ekspor manggis , tadinya ini mau monopoli komoditi manggis kita yang ada di Lombok,’’ ujarnya.

Pihaknya berharap pemerintah daerah melalui stakeholder terkait, dalam hal ini Dinas Perdagangan, mengelaborasi kembali kemampuan petani dan perusahaan untuk melakukan ekspor. Dengan demikian diharapkan tidak ada lagi komoditas unggulan NTB yang memakai SKA dari daerah lain.

Apec sendiri disebutnya siap mengakomodir dan menarik kembali penjual di luar daerah. Artinya, para penjual tersebut diperbolehkan menjual ke luar daerah dengan syarat SKA tetap dibuat di NTB. Hal tersebut ditekankannya berhubungan dengan neraca perdagangan yang ada.

‘’Supaya kita tahu neraca perdagangan dari luar berapa. Setiap saat itu yang keluar negeri,’’ ujar Anhar. Menurutya, dalam sistem ekspor saat ini NTB terlalu bergantung pada daerah lain. ‘’Kalau dari Bali tidak ada (ekspor), komoditi kita hilang. Tidak ada keuntungan yang didapat,’’ sambungnya.

  Restoran Sari Laut Bantu Kehidupan Nelayan

Sebelumnya Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) NTB, Drs. Fathurrahman, M.Si, menerangkan pemakaian SKA dari daerah lain untuk ekspor NTB disebabkan kondisi pandemi saat ini. Sehingga perusahaan di NTB bekerja sama dengan perusahaan di daerah lain yang mengelola ekspor untuk komoditas yang sama.

Diterangkannya, jika tidak dilakukan dengan sistem tersebut produksi manggis NTB dikhawatirkan tidak terjual tepat waktu dan justru akan rusak. Mengingat pemakaian SKA dari daerah lain melalui kerja sama perusahaan menurutnya jamak dilakukan dalam dunia perdagangan.

“Yang penting barang ini laku di pasaran.  Apalagi sekarang sudah musimnya, sementara kalau tidak ada penampungnya akan menjadi rusak,” ujarnya. (bay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here