Pengerjaan Proyek di Mataram Diduga Ada Permainan

Sejumlah pekerja tengah mengerjakan proyek gerbang di Jalan Lingkar Selatan, Minggu, 16 Desember 2018. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Komisi III DPRD Kota Mataram, mengendus adanya permainan  dalam pengerjaan proyek di Kota Mataram. Bendera (perusahaan) berbeda, tetapi orang yang mengerjakan sama.

“Pemenangnya orang yang sama tapi berganti bendera,” kata Ketua Komisi III, I Gde Wiska dikonfirmasi pekan kemarin.

Iklan

Praktik seperti ini tak boleh terjadi. Wiska mengambil contoh proyek jembatan Dasan Agung tahun 2017 lalu. Dengan bendera berbeda tetapi yang mengerjakan sama. Tak menutup kemungkinan kasus ini terulang lagi. Sehingga, jangan disalahkan jika proyek terlambat. “Kuncinya semua ada di Bagian Layanan dan Pengadaan,” tandasnya.

Bagian Layanan dan Pengadaan kata Politisi PDI Perjuangan ini, memiliki peran tidak saja memperhatikan bendera (perusahaan). Melainkan, memperhatikan siapa pemilik yang mengendalikan perusahaan tersebut.

DPRD, tambah Wiska, memberi peringatan ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), bahwa proyek tersebut berasal dari uang rakyat. Penggunaan, perencanaan maupun pelaksanaan tendernya harus transparan. “Jangan sampai ada permainan – permainan. Masyarakat tidak menginginkan itu. Bagaimana kami mengantisipasi pekerjaan dengan baik,” tandasnya.

Kasus keterlambatan pengerjaan proyek dinilai Wiska tak lepas dari kurang matangnya perencanaan. Keterlambatan itu wajar menjadi sorotan media. Dan, ini membuka ruang bagi aparat penegak hukum untuk masuk menelisik persoalan tersebut.

Dia mengingatkan, pekerjaan fisik diharapkan dapat dikerjakan tepat waktu. Jangan sampai terkesan dikebut tapi tak memperhatikan kualitas.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas PUPR Ir. H. Mahmuddin Tura mengatakan, kalaupun ditemukan kasus seperti itu hanya di beberapa proyek saja. Dan, ini sifatnya kasuistis saja. Yang paling penting, perusahaan bertanggungjawab.

“Namanya pengusaha memiliki tiga sampai empat perusahaan. Jelas direkturnya berbeda – beda,” jawabnya. Pemkot Mataram kata Mahmuddin, menjalin kerjasama dengan perusahaan perlu berhati – hati. Jangan sampai, mereka meminjam nama perusahaan tapi tidak bertanggungjawab terhadap pekerjaan mereka.

Dia bersyukur, pengerjaan proyek di Mataram didampingi oleh TP4D. TP4D menangkal perusahaan tak bertanggungjawab. “Kita bersyukur didamping TP4D. Karena, besar sekali manfaatnya ke kami,” demikian kata dia. (cem)