Pengerjaan Empat Proyek Penataan Senggigi Diperpanjang

Salah satu proyek penataan kawasan Senggigi yang sudah dikerjakan.(Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Empat proyek penataan kawasan Senggigi terpaksa diadendum (perpanjangan masa pengerjaan). Pasalnya, hingga masa kontrak tanggal 16 Desember proyek belum bisa tuntas 100 persen. Kontraktor yang proyeknya diadendum inipun dijatuhkan sanksi denda sesuai dengan aturan yang berlaku.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Lobar, H. Saepul Ahkam mengatakan pihaknya sudah melakukan tahapan Show Cause Meeting (SCM) atau Rapat Pembuktian Keterlambatan pada proyek konstruksi.  Selanjutnya Selasa, 14 Desember 2020 pihaknya melakukan rapat evaluasi terhadap lima item proyek penataan Senggigi apakah dilanjutkan atau tidak.

Lima proyek tersebut, sebut dia,  kawasan Makam Batulayar, kawasan Pura Batu Bolong, kawasan di sekitar Kafe Alberto, kawasan di sekitar Hotel Pasifik dan kawasan di Hotel Sheraton. Pihaknya memberikan surat teguran kedua kepada rekanan. “Dari lima proyek terdapat empat proyek yang diadendum. Kita bolehkan adendum dengan sanksi denda,” jelas Ahkam.

Alasan diberikan perpanjangan waktu, menurut mantan Kabag Humas dan Protokol Setda Lobar ini dari sisi progres memungkinkan selesai. Karena hasil SCM disepakati kalau progres di bawah 80 persen, maka dilakukan pemutusan kontrak. Sedangkan kalau di atas 80 persen bisa diberikan kesempatan melanjutkan dengan kesanggupan material pabrikasi segera tersedia.

Pertimbangan lainnya, kalau dilihat dari kondisi proyek sisa pekerjaan di tiga proyek berkisar 2,7 persen sampai 17 persen. Dan sisa pekerjaan ini hanya tinggal menunggu material pabrikan berupa tiang PJU. Tiang PJU ini sudah dipesan dan dua-tiga hari ini sudah on side (ada di lokasi). Begitu datang meterial langsung dipasang dan proyek selesai. Selain itu ada pekerjaan finishing seperti pengecatan dan pemasangan ornamen.

Sedangkan untuk penataan kawasan di Sheraton tidak diadendum karena progresnya 98 persen dengan kontrak berakhir tanggal 21 Desember. Sebelumnya pihaknya mengaku khawatir dengan proyek depan Alberto, namun progresnya sudah bagus. Terkait waktu adendum masih menunggu  hasil koordinasi Bagian Pembangunan dengan pihak Bank NTB Syariah selaku pemberi pinjaman dana proyek tersebut. (her)