Pengembangan Sapi Impor Dikhawatirkan Gerus Semangat Peternak Sapi Lokal

Hj. Budi Septiani. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB mengkhawatirkan tergerusnya semangat para peternak lokal karena program pengembangan ternak impor secara massif. Seperti diketahui, Himpunan Kerukuran Tani Indonesia (HKTI) bekerjasama dengan perusahaan importir-eskportir ternak yang telah diberikan kuota oleh Kementerian Pertanian RI melepas program  penggemukan 10 juta sapi Brahman Australia. Program ini didukung penuh oleh HKTI Provinsi NTB.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB, Ir. Hj. Budi Septiani mengatakan, pihaknya mewakili Pemprov NTB belum mengetahui secara teknis program penggemukan sapi impor kerjasama HKTI ini. “Apakah khusus di Lombok Timur, atau programnya merata di NTB. Saya tidak tahu, karena tidak ada informasi ke kami,” katanya kepada Suara NTB di Mataram, Rabu, 4 November 2020.

Iklan

Kepala dinas mengatakan, program penggemukan sapi tidak bisa dilakukan begitu saja. Diantaranya yang harus diperhatikan adalah persiapan SDM (kelompok). Mengingat yang akan digemukkan adalah sapi dari luar negeri, yang biasanya perlakukannya beda, maka penerima manfaat harus mendapatkan pemahaman lengkap bagaimana perlakukan penggemukan sapi impor.

Selain itu diperhatikan adalah ketersediaan air. Untuk kebersihan kadang dan ternak-ternaknya. Mengingat, sapi penggemukan hanya diperlakukan di dalam kandang. Selain itu, lanjut Hj. Budi, tersedianya hijauan pakan ternak (HPT) yang mencukupi. Tidak bisa menurutnya hanya mengandalkan pakan yang tersedia di alam. Apalagi penggemukan sapi impor dan target beratnya dipatok dalam waktu ta panjang, 3 – 4 bulan. Kebutuhan pakan sapi impor bisa tiga kali lipat dibandingkan kebutuhan pakan sapi lokal.

“Berarti harus disiapkan pakannya dulu. Tidak cukup dengan pakan hijauan yang ada. Dan pakan hijauan yang ada saat ini saja tidak cukup dengan potensi populasi ternak kita yang ada,” imbuhnya. Selain itu, kekhawatiran pemerintah adalah jika pasarnya, penggemukan sapi – sapi impor ini nantinya untuk memenuhi kebutuhan daging lokal, bagaimana nasib para peternak lokal. Jika dipasarkan di Jawa, atau bahkan di luar negeri.

Menurutnya tidak menjadi persoalan. Apalagi rencana pembelian daging sapi hidupnya dihitung Rp55 ribu/Kg. Sementara untuk daging sapi lokal tertinggi Rp50.000/Kg hidup. Dengan demikian, dari sisi harga daging hidup cukup menjanjikan bagi para petani. Tetapi disisi lain, konsekuensi yang harus ditanggung adalah harga jualnya di pasaran akan tinggi. “Harus ada perhitungan keseimbangan antara kebutuhan sapi kita,” ujarnya.

Secara pribadi, kepala dinas mengatakan, dengan massifnya pengembangan sapi lokal ini bisa mempengaruhi sapi-sapi lokal. Semengat peternak sapi lokal dikhawatirkan akan terus turun. Sangat baik, kata kepala dinas, pengembangan sapi impor tidak sepenuhnya sapi luar negeri. Diharapkan proporsional, sapi impor dan sapi lokal agar tetap eksis. “Kalau semua sudah berlomba-lomba mengembangkan sapi impor, pada saatnya kita akan dibuat tergantung. Pasar kita bisa dipengaruhi oleh impor,” demikian Hj. Budi Septiani. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional