Pengembangan Klaster Pariwisata di KEK Mandalika Harus Terwujud

M. Firmansyah, M. Nur Haedin, I Gusti Lanang Patra, Dewantoro Umbu Joka. (Suara NTB/ars)

PELAKU industri pariwisata mendukung tercapainya seluruh target pembangunan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Pasalnya, dengan potensi yang cukup besar, kawasan tersebut diakui akan memberikan dampak signifikan. Khususnya bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.

Ketua Kehormatan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, I Gusti Lanang Patra, menerangkan potensi besar KEK Mandalika adalah konsep resort yang akan dikembangkan di kawasan tersebut. Dengan berdirinya hotel-hotel untuk mengakomodir kebutuhan wisatawan, maka akan berbanding lurus dengan terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat NTB.

Iklan

‘’Paling utama adalah (keuntungan) bagi masyarakat di sekitar Mandalika, Lombok Tengah, itu yang khusus. Kemudian masyarakat NTB secara umum juga,’’ ujar Lanang.

Menurutnya, hal itu memungkinkan dilakukan, jika dibandingkan dengan kawasan Nusa Dua, Bali, yang juga dikembangkan oleh Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC).

Selain itu, dengan dikembangkannya KEK Mandalika maka daerah lain di luar kawasan juga diharapkan dapat ikut berkembang. Sehingga KEK Mandalika berperan sebagai katalisator perekonomian NTB, khususnya dengan penyerapan tenaga kerja.

‘’Kalau ini terwujud, penyerapan tenaga kerja dari masyarakat Lombok Tengah paling 20 persen, jadi bisa lebih luas untuk seluruh NTB. Begitu terbukanya lapangan kerja, itu juga ada potensi PAD untuk pemerintah daerah,’’ ujar Lanang.

Untuk mencapai target pembangunan di KEK Mandalika, Lanang menyebut pemerintah, masyarakat, dan pelaku industri perlu menyamakan visi-misi terlebih dahulu. Pasalnya, setelah beroperasi hampir 30 tahun, ITDC selaku pengembang kawasan belum mencapai pemenuhan target yang signifikan dari segi dampak. ‘’Ini berarti ada apa? Ada yang perlu sama-sama kita selesaikan,’’ ujarnya.

Hal itu perlu menjadi prioritas pemerintah melalui stakeholders terkait, mengingat potensi dan prospek luar biasa yang dimiliki kawasan tersebut. ‘’Kita perlu membulatkan tekad mewujudkan ini semua,’’ ujar Lanang.

Seluruh upaya tersebut diharapkan segera membuahkan hasil. Mengingat pelaku industri telah memasarkan KEK Mandalika, khususnya untuk gelaran MotoGP yang akan dilaksanakan pada 2021 mendatang. Serta upaya pemerintah pusat menjadikan KEK Mandalika sebagai destinasi wisata super prioritas sejak beberapa tahun terakhir.

Dalam hal ini, pemerintah diharapkan segera menggandeng pihak terkait untuk mencari benang merah masalah, guna meyakinkan masyarakat di sekitar kawasan tentang potensi KEK Mandalika untuk peningkatan ekonomi. ‘’Harus gerak bersama antara pemerintah, LSM, warga masyarakat NTB untuk menyatukan visi-misi tentang Mandalika Resort itu,’’ ujarnya.

Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) NTB, Dewantoro Umbu Joka, menerangkan bahwa peran ITDC dalam mengembangkan KEK Mandalika sampai saat ini patut diapresiasi. Walaupun begitu, masalah investasi yang belum terealisasi dengan signifikan diakui berpotensi menjadi masalah yang bisa menghambat laju pembangunan di dalam kawasan.

‘’ITDC sudah bagus menyiapkan lahan (kawasan, Red). Cuma mungkin investornya ini yang masih belum bekerja. Harapan kita itu perlu waktu lagi, karena harusnya tahun ini sudah 1.900 (kamar hotel), tapi belum bisa terwujud,’’ ujar Dewantoro.

Menurutnya seluruh kejelasan pembangunan di KEK Mandalika berhubungan erat dengan penyusunan paket wisata yang akan dilakukan oleh pelaku industri pariwisata, khususnya agen perjalanan. “Bagi kami di Asita pastinya menunggu tanggal, harga tiket, fasilitas apa. Itu semua nanti digabungkan dengan harga paket,’’ ujarnya.

Penyusunan paket MotoGP sendiri bukan hal baru bagi pelaku industri pariwisata NTB. Dicontohkan Dewantoro seperti paket nonton bareng MotoGP di Sepang, Malaysia. Di mana dalam paket tersebut peserta tur diajak menonton MotoGP juga mengeksplorasi destinasi wisata lainnya di Malaysia.

Terkait kurangnya ketersediaan kamar hotel yang menjadi kekhawatiran pemerintah saat ini, disebut Dewantoro memiliki beberapa solusi. Diantaranya mengajak wisatawan untuk menginap di destinasi wisata lainnya di Lombok, bahkan Sumbawa. ‘’Bagi kami di Asita ada atau tidak adanya hotel di Mandalika itu tidak terlalu berpengaruh. Karena mereka tidak harus menginap di sana. Kelas penontonnya juga macam-macam,’’ ujarnya.

Promosi KEK Mandalika telah dilakukan jauh-jauh hari. Promosi tersebut menurut Dewantoro utamanya ditujukan untuk mengenalkan seluruh destinasi wisata di NTB secara umum dengan KEK Mandalika sebagai magnet. Khususnya dengan gelaran MotoGP yang akan dilaksanakan tahun depan.

Salah satu bentuk dukungan pelaku industri seperti pengubahan nama beberapa paket wisata. ‘’Sekarang tidak ada lagi Kuta Tur atau Sasak Tur. Semua diubah jadi Mandalika Tur, itu cara kita mendukung KEK Mandalika sehingga orang sekarang tahunnya Mandalika,’’ ujar Dewantoro.

Dengan seluruh upaya yang dilakukan pelaku industri tersebut, pemerintah diharapkan dapat memberikan respons aktif dari segi kebijakan dan regulasi. Khususnya untuk menjamin terselenggaranya MotoGP 2021 serta penyelesaian pembangunan fasilitas dan pengaturan aksesibilitas.

‘’Semoga pembangunan hotel dan lain-liannya di sana (KEK Mandalika, Red) bisa segera terealisasi,’’ ujar Dewantoro. Di sisi lain, khusus untuk aksesibilitas, pemerintah diharapkan dapat mengatur regulasi tentang harga tiket pesawat.

‘’Jangan berharap orang Indonesia akan ke sini kalau tiket (pesawat) masih mahal. Sekarang memang sedang turun, dari Jakarta hanya Rp400 ribu. Mudah-mudahan (turunnya harga tiket) ini bisa sampai 2021 nanti,’’ harapnya’’ sambungnya.

Senada dengan itu, Pemerhati Ekonomi NTB, M. Firmansyah, menyebut KEK Mandalika saat ini telah menjadi kebanggaan masyarakat NTB secara umum. ‘’Harapan kita (kawasan) ini memang harus jalan,’’ ujarnya.

Dalam pengembangannya, KEK Mandalika diarahkan mejadi industrial cluster tourism. ‘’Jadi kita membangun sebuah kawasan klaster berbasis pariwisata,” ujar Firmansyah. Untuk memaksimalkan konsep tersebut, maka ada tiga aspek yang perlu dipenuhi pihak pengembang, dalam hal ini ITDC.

Pertama, ITDC perlu menyiapkan profil bisnis. Di mana pihak pengembang membuat pemetaan dan menentukan bisnis inti yang akan dikembangkan di dalam kawasan. ‘’Jadi di dalam kawasan itu harus ada bisnis intinya. Baru kemudian turunan-turunannya. ITDC sudah membagi zona itu,’’ ujarnya.

Kedua, perlu juga disiapkan jaringan produksi di mana KEK Mandalika menjadi magnet yang menarik masuk beberapa aktivitas bisnis lainnya. Pengembangan tersebut juga bisa mempengaruhi daerah lain di luar kawasan. ‘’Misalnya di Sembalun kita buat klaster industri makanan, kita jual untuk masuk Mandalika. Memanfaatkan branding Mandalika,’’ ujar Firmasnyah.

Ketiga, perlu dilakukan pengukuran dampak pembangunan KEK Mandalika secara komprehensif. ‘’Apa dampak KEK Mandalika terhadap Lombok dan Sumbawa. Sehingga itu perlu dipikirkan, sharing informasi yang tepat,’’ ujar dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram ini.

Di sisi lain, pengembangan KEK Mandalika saat ini disebut belum mengedepankan aspek produksi inovasi. Khususnya pemberian ruang bagi industri kreatif, padahal potensinya sangat besar.

Dicontohkan Firmansyah seperti pelibatan beberapa universitas dan komunitas. ‘’Misalnya ada komonitas robotic di unviersitas, setiap tahun kita bisa adakan pameran. Pelibatan sekolah-sekolah di NTB. Kita antisipasi setelah MotoGP jangan sampai kosong,’’ ujarnya.

Hal tersebut berkaitan erat dengan penyediaan ruang riset dan development, sehingga KEK Mandalika bisa berkembang dengan lebih luas dari sekadar memanfaatkan pariwisata sebagai tulang punggung. Diterangkan Firmansyah, hal lain yang bisa dilakukan juga adalah mengkoneksikan beberapa program prioritas pemerintah yang telah masuk dalam RPJMN.

‘’Smelter di KSB dan Global Hub di Lombok Utara itu sekarang menjadi kawasan industri, kita bisa hubungkan. Kita bisa desain (KEK Mandalika) untuk terkoneksi dengan kawasan-kawasan besar itu, sehingga nilai jualnya bisa lebih tinggi,’’ ujar Firmansyah.

Seluruh proses tersebut ditujukan untuk mendapatkan manfaat, baik secara langsung berupa terbukanya lapangan kerja dan peningkatan ekonomi. Sedangkan untuk manfaat tidak langsung merupakan kompetensi yang dimiliki pemerintah daerah.

‘’Dari Lombok Tengah, Lombok Timur, Mataram, sampai di Bima sana harus mulai memikirkan apa yang bisa dikontribusikan untuk bisa mendukung adanya KEK Mandalika ini,’’ pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Indonesian Congress and Convention Association (INCCA) NTB, M. Nur Haedin mengatakan, banyak pihak yang berkompeten di NTB tidak optimis dengan pelaksanaan MotoGP 2021. Hal ini dipicu adanya persoalan tanah yang belum terselesaikan.

Namun ia mengatakan optimis gelaran MotoGP 2021 akan dilaksanakan di Sirkuit Mandalika. Bahkan rencananya setelah lebaran, Federation Internationale de Motocyclisme (FIM) akan turun ke lokasi pembangunan Sirkuit Mandalika.

Ketika FIM sudah turun, kata Ketua Ikatan Motor (IMI) NTB ini, maka sudah pasti MotoGP 2021 dilaksanakan di Mandalika. Menurutnya, event MotoGP Mandalika menjadikan Mandalika sebagai magnet.

‘’Kami pelaku pariwisata ada di pra dan pasca event MotoGP. Tapi kalau dilihat dari aspek MICE, kami mengambil multiplier effect setelah event MotoGP,” katanya.

Dengan adanya gelaran MotoGP di Mandalika, maka pasti akan muncul event-event kelas dunia lainnya. Yang sudah pasti adalah MotoGP dan superbike. Untuk kejuaraan dunia superbike, jumlah penonton bisa menembus 100.000 orang.

Untuk fasilitas MICE di kawasan Mandalika, hingga saat ini masih belum ada. Bahkan, hotel di kawasan Mandalika belum memiliki ballroom untuk menampung ratusan peserta.

Untuk peluang bisnis, agak sulit pengusaha lokal masuk mem-booking kamar hotel di kawasan Mandalika. Karena hotel-hotel di pusat kawasan Kuta Mandalika sudah dipesan oleh travel Spanyol dan Prancis. “Saya mau booking kamar untuk penonton Indonesia dengan harga tiket Rp350 ribu sampai Rp650 ribu, kamar sudah nggak ada,” katanya.

Keterbatasan akomodasi dapat belajar dari pelaksanaan MotoGP Sepang dan Buriram. Ia mengatakan, pihaknya sudah melakukan survei di kawasan Mandalika. Bahwa di Bukit Marese dapat dibangun tenda-tenda untuk penginapan.

Untuk properti yang dibutuhkan tak mencukupi di NTB. Sehingga nanti pihaknya akan meminta ke anggota INCCA yang ada di Bali, Surabaya, Yoggyakarta, Makassar dan lainnya. Karena untuk pengadaan properti cukup mahal. “Kita harus join dengan teman Jakarta, Surabaya, Bali, Yogyakarta, Makassar dibawa menggunakan kontainer,” jelasnya.

Berkaitan dengan event pra-MotoGP 2021, sedang didorong roadshow MICE di Mandalika. Tahun ini, INCCA bekerjasama dengan IMI menjual paket roadshow Mandalika MotoGP ke komunitas-komunitas motor di Indonesia.

Ia menyebutkan ada 12 paket roadshow komunitas motor ke Mandalika dengan jumlah peserta sekitar 5.000 – 6.000 orang. Pada perhelatan MotoGP 2021 mendatang, diperkirakan 20.000 – 30.000 penonton dari komunitas motor  akan menyewa motor. Di NTB masih kesulitan untuk memenuhi permintaan tersebut, karena belum punya usaha penyewaan motor yang dibutuhkan dengan kapasitas 150 cc. (bay/nas)