Pengembang Perumahan Disyaratkan Siapkan Lahan Osamtu

Tanjung (Suara NTB) – Bagi calon investor sektor perumahan, bakal ada “syarat” tambahan yang harus disanggupi sebelum membangun. Syarat dimaksud adalah kesediaan pengembang properti untuk menyiapkan sarpras pengolahan sampah dengan tungku (osamtu).

“Sekarang kita minta, pengembang yang membangun perumahan harus menyediakan satu dua are untuk pembangunan sarana kebersihan,” tegas Bupati KLU, Najmul Akhyar, Senin, 26 September 2016.

Iklan

Bupati menilai upaya Pemda dalam mengelola sampah masih dilakukan sepihak tanpa dukungan swasta. Misalnya saja, penyiapan sarana dan prasarana pengelolaan sampah, terkendala ketiadaan lahan, termasuk lahan di kompleks perumahan. Oleh karenanya, ke depan ia menginginkan agar ketersediaan lahan osamtu menjadi nota kesepahaman tambahan yang harus disanggupi oleh swasta.

Selain sektor properti swasta, bupati juga mengingatkan pentingnya krsediaan lahan tambahan osamtu di sejumlah sarana. Antara lain, Pasar-pasar, pemukiman penduduk, hingga usaha jasa wisata yang berdomisili secara kolektif, misalnya di Senaru dan sekitarnya.

Idealnya menurut bupati, pembangunan pasar di KLU harusnya mempertimbangkan lokasi pembuangan sampah. Sebab di kebanyakan pasar, belum tersedia lokasi dimaksud. Prasarana tambahan yang disiapkan Pemda kerap tak dimanfaatkan optimal oleh masyarakat, sehingga sampah di pasar masih dibuang sembarangan.

“Selama ini, kalau kita membangun pasar tidak disertai paket lahan itu, polanya masih parsial. Maka dari itu sekarang harus diubah mindset tersebut,” katanya.

Najmul optimis, pilot project osamtu yang saat ini tengah dibangun di Trawangan akan menjadi contoh bagi sarana serupa dalam jangka panjang. Jika pola ini berhasil, maka ke depan, Pemda mempertimbangkan untuk membangun osamtu di pasar dan pemukiman padat penduduk.

“Kalau di sana sukses, tentu bisa diterapkan di pasar-pasar juga. Kan tidak membutuhkan lahan yang luas, paling hanya 1 atau 2 are sudah cukup,” sambungnya.

Menyikapi hal itu, Anggota Komisi III DPRD KLU, Artadi, S.Sos., kepada wartawan mendukung penuh rencana ini. Ia meyakini, apabila di kompleks perumahan, pemukiman padat penduduk dan pasar-pasar dibangun osamtu, pengelolaan sampah dapat dilakukan optimal. Tetapi, menyadari lokasi pasar yang ada sekarang, beberapa pasar utama saat ini nyaris tak tersedia lahan yang bisa digunakan untuk osamtu.

“Pada intinya kita setuju, cuma sebaiknya dipertimbangkan lokasi setempat apakah ada lahan tambahan atau tidak. Lalu bagaimana dengan kemampuan anggaran daerah. Kalau mencukupi, kenapa tidak,” ujarnya. (ari)