Pengedar Jual Sabu Demi Modal Nikah

Suasana penggeledahan rumah pelaku yang diduga pengedar narkoba berinisial DI alias UC, Kamis, 26 Maret 2021 di sebuah rumah di Punia, Mataram.(Suara NTB/Ditresnarkoba Polda NTB)

Mataram (Suara NTB) – Warga Punia, Mataram DI alias UC (28) diduga meneruskan bisnis kakak kandungnya yang kini menghuni penjara karena kasus narkoba. Pria ini bagian dari jaringan peredaran narkoba tiga orang berinisial SR, DP, dan AZ. DI sedang dikejar waktu untuk melunasi biaya resepsi pernikahannya.

Dirresnarkoba Polda NTB Kombes Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra menjelaskan, UC menjalankan bisnis sabunya dibantu tiga orang tersebut. “Tiga orang itu anak buah UC,” ujarnya, Jumat, 26 Maret 2021. Penangkapan UC ini bertepatan dengan sepekan setelah dirinya melangsungkan akad nikah. Resepsi pernikahannya terancam batal karena UC ditangkap terkait kasus narkoba. “UC mencari modal untuk membiayai resepsi pernikahan,” sebut Helmi.

Iklan

Penangkapan UC berawal dari penggerebekan terhadap SR (30), DP (22), dan AZ (22) di Perumahan Sri Gati, Punia, Mataram Kamis, 26 Maret 2021. Tiga orang ini mendiami kamar kos yang diduga memang sengaja dipakai untuk tempat transaksi narkoba.

“Anggota yang turun digeledah saksi umum dulu untuk memastikan tidak ada rekayasa. Setelah itu mereka yang tiga orang ini kita geledah. Kita dapat sabu 2,22 gram,” sebutnya. Selain itu ditemukan juga barang bukti peralatan untuk mengonsumsi sabu berupa pipet kaca, bong, dan sekop dari pipet plastik.

Penelusuran diteruskan. Hal itu berangkat dari pengakuan tiga pelaku yang mengaku mendapat barang dari UC. Penggerebekan beralih ke rumah UC yang hanya berjarak dua RT dari lokasi penggerebekan pertama. Rumah UC digeledah. Tidak ada barang bukti narkoba ditemukan. “Ada rekam jejak digital HP milik UC yang isinya percakapan terkait transaksi sabu antara dia dengan calon pembeli,” kata Helmi.

Dari riwayat percakapan itu juga akhirnya diketahui UC punya jaringan lagi di atasnya. Tidak lain kakak kandung UC sendiri berinisial ST alias IG. ST ini merupakan narapidana kasus narkoba yang divonis penjara selama tujuh tahun dan denda Rp800 juta subsider empat bulan. ST divonis bersalah memiliki 10 butir ekstasi. ST ditangkap Juni 2019 lalu di tepi jalan Lingkungan Jeruk Manis, Cakranegara Barat, Cakranegara, Mataram. “Kita sedang kembangkan apakah benar dia mengambil barang dari kakaknya,” kata Helmi.

Pihaknya kemudian berkordinasi dengan Lapas Mataram untuk meminta keterangan ST terkait kasus tersebut. Helmi mengapresiasi Lapas Mataram yang mendukung upaya pemberantasan narkoba dengan mempersilakan pemeriksaan terhadap ST yang sedang menghuni sel di Lapas Kuripan. (why)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional