Pengawas Harus Mampu Fasilitasi Pemecahan Masalah Pembelajaran

Pengajar sedang menyampaikan materi pada Diklat Cawas di Kota Bima pekan kemarin. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) –  Rangkaian atau siklusi pendidikan dan pelatihan (diklat) calon pengawas (cawas) diharapkan mampu menghasilkan calon pengawas sekolah yang mampu memfasilitasi pemecahan masalah pembelajaran.

Pengajar Diklat Cawas Kota Bima dari LPMP NTB, Dr. Syamsul Hadi, M.Pd. menjelaskan, model pembelajaran Diklat Calon Pengawas Sekolah pada tahapan OJT1IST1OJT-2, dan IST-2 dikembangkan dari siklus pembelajaran model ORPAReA (Observe, Reflect, Plan, Action, Reflect, dan Awereness). Siklus pembelajaran ORPAReA pada tahap OJT-1 menerapkan unsur Observe dan Reflect; pada IST-1 menerapkan unsur Plan dengan sintak ILEAD (Instroduction-Link-Enforecement-Awereness-Develepment); tahap OJT-2 menerapkan unsur Action, sedangkan pada tahap IST-2 menerapkan Reflect dan Awareness.

Iklan

“Melalui siklus tersebut diharapkan akan terwujud Calon Pengawas Sekolah yang mampu memfasilitasi pemecahan masalah pembelajaran menuju perubahan satuan pendidikan sesuai tuntutan perkembangan zaman,” ujar Syamsul Hadi.

Penanggung jawab Kegiatan Diklat Cawas, Drs. I Made Murta Astawa, M.Pd., menjelaskan melalui Pendampingan kedua On the job training (OJT) 2, Cawas Kota Bima lakukan persiapan In service training (IST) 2. Bertempat di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Bima, para calon pengawas sekolah Kota Bima pada hari Rabu, 24 November 2021 mengikuti pendampingan kedua On the job training (OJT) 2 melalui moda luring.

Pendampingan kedua dari Pengajar Diklat difasilitasi oleh Widyaprada LPMP Provinsi NTB. Pendampingan kedua yang dilaksanakan ini bertujuan mempersiapkan kegiatan In Service Training (IST) 2.  Dalam IST-2 Mata Diklat yang dibahas adalah Penjelasan Teknis IST-2, Presentasi dan Gelar Karya Inovasi, Refleksi Pelaksanaan Rencana Tindak Lanjut Program Pengawasan (RTLPP), Test Akhir, dan Evaluasi Diklat.

Made menambahkan, pada tahap  OJT 2 dengan siklus pembelajaran model ORPAReA yang menjadi titik tekan adalah action. Seluruh peserta melaksanakan Rencana Tindak Lanjut Program Pengawasan (RTLPP), baik di sekolah asal maupun di sekolah magang. Tempat pelaksanaan OJT-2 adalah di sekolah tempat bertugas, dan sekolah lain sebagai tempat magang.

“Sekolah lain yang dipilih sebagai tempat sekolah magang adalah sekolah yang memiliki akreditasi setidaknya sama atau lebih tinggi dari sekolah asal peserta dan kepala sekolah di sekolah magang tersebut memiliki penilain kerja satu tahun terakhir paling rendah ‘’Baik’’. Sekolah lain itu dipilih oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bima.

Selanjutnya, Pengajar Diklat, Dr. Wirman Kasmayadi, S.Pd., M.Pd., memaparkan, aktivitas peserta calon pengawas sekolah yang dilakukan dalam tahapan diklat OJT 2 adalah menyosialisasikan RTLPP pada warga sekolah dan mentor, menyiapkan sumber daya, bersama dengan mentor melaksanakan RTLPP dengan melibatkan seluruh warga sekolah, melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev), melakukan refleksi hasil pelaksanaan RTLPP, merekam hasil OJT-2, menyusun dan mengunggah hasil OJT-2, dan menyiapkan bahan gelar karya pada IST-2. (ron)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional