Pengangkatan Satu Juta Guru Honorer, Disdik Loteng Finalisasi Kebutuhan Guru

Guru dari berbagai sekolah di Loteng dilatih khusus untuk mewujudkan sekolah sehat melalui penerapan STBM, Jumat, 27 November 2020. (Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) tengah melakukan finalisasi kebutuhan guru setelah ada rencana pengangkatan guru honorer menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) oleh pemerintah pusat. Hasilnya nanti akan disampaikan ke pemerintah pusat, pada saat rapat koordinasi dengan pemerintah pusat yang direncanakan digelar pekan depan.

“Berapa alokasi untuk Loteng dalam program ini belum ditentukan. Nanti pemerintah pusat yang akan menentukan, berdasarkan usulan yang disampaikan oleh Pemkab Loteng,” terang Sekretaris Disdik Loteng, Drs. H. L. Muliawan, kepada Suara NTB, Jumat, 27 November 2020.

Ia menjelaskan, pihaknya masih melakukan inventarisir kebutuhan guru, baik itu untuk guru SD maupun guru SMP di semua sekolah di Loteng. Karena hampir semua sekolah di Loteng persoalannya sama, yakni kekurangan guru, terutama guru SD itu yang paling banyak.

Pola nantinya, pihaknya akan menghitung dulu berapa jumlah guru di sekolah tersebut. Kemudian disandingkan dengan standar ideal jumlah guru di masing-masing sekolah. Misalnya, untuk SD standar jumlah gurunya minimal 9 orang. Jika di sekolah tersebut sudah punya 4 guru yang berstatus ASN, maka kekurangan guru di sekolah tersebut terhitung sebanyak 5 orang.

“Yang dihitung ini ketersediaan guru yang berstatus ASN. Kalau yang honor tidak dihitung. Itu yang saat ini sedang kita finalisasi, berapa sih kebutuhan guru kita,” tegasnya.

Hasil finalisasi kemudian akan disandingkan dengan jumlah guru honor yang sudah masuk dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Loteng.

Pasalnya yang bisa atau boleh ikut seleksi peneriman guru ASN dalam program satu juta guru tersebut hanya guru honor yang sudah masuk dapodik. “Jadi yang belum masuk dapodik tidak bisa ikut seleksi program satu juta guru,” terangnya.

Dalam proses seleksi nantinya, guru honor diberikan kesempatan tiga kali untuk ikut seleksi. Jadi jika pada kesempatan pertama, guru honor tersebut tidak lulus seleksi masih ada dua kesempatan lagi. Tapi kalau sudah tiga kali tetap saja tidak lulus, tidak ada lagi kesempatan.

Untuk batasan usia guru honor yang bisa ikut seleksi, maksimal berusia 59 tahun, karena guru honor yang diangkat itu nanti statusnya Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), bukan Pegawai Negeri Sipil (PNS). “ASN inikan ada dua jenis, yakni PNS dan P3K,” terangnya.

Menurutnya, kalau yang mau mengejar status PNS bisa ikut seleksi pada rekrutmen CPNS dari jalur umum. Itu sudah jelas batas usia yang bisa ikut seleksi maksimal 35 tahun. Sedangkan untuk program pengangkatan satu juta guru secara nasional ini, usia di atas 35 tahun masih boleh ikut seleksi.

Pada bagian lain, puluhan guru dan kepala sekolah di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) mendapat pelatihan khusus terkait Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) d Grand Royal Batujai Bypass bandara, Jumat, 27 November 2020. Program yang bertujuan mewujudkan lingkungan yang sehat dan bersih, khususnya lingkungan sekolah, sehingga diharapkan mampu mendukung upaya peningkatan kualitas anak didik di daerah ini.

“STBM mengarahkan sekolah untuk bagaimana bisa memenuhi lima indikator standar sanitasi dan kesehatan yang baik,” ujar H.L. Muliawan yang membuka pelatihan STBM.

Pertama, tersedianya toilet yang bersih dan sesuai rasio jumlah siswa. Untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang bebas Buang Air Besar (BAB) Sembarangan, kemudian fasilitas cuci tangan yang memadai, pengawasan terhadap kualitas makanan dan minuman yang sehat di lingkungan sekolah secara ketat. Termasuk pengeolahan sampah dan limbah.  (kir)