Pengamanan Pemungutan Suara Diujicoba Lewat Simulasi

Suasana Simulasi pengamanan pemungutan suara sesuai protokol kesehatan di Sumbawa.(Suara NTB/ist)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak akan digelar pada 9 Desember mendatang. Menjelang pemilihan ini, semua pihak terkait di Tempat Pemungutan Suara (TPS) diharapkan dapat memahami tupoksi masing-masing. Karenanya, untuk mengantisipasi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Polres Sumbawa menggelar simulasi  pengamanan pemungutan suara sesuai protokol kesehatan di halaman Kantor Bupati Sumbawa, Sabtu, 28 November 2020.

Simulasi dipimpin Kapolres Sumbawa, dihadiri Dandim 1607/Sumbawa, Pjs. Bupati Sumbawa, Ketua KPU, Bawaslu, Satpol PP, Kepala Kesbangpoldagri, dan diikuti oleh seluruh petugas TPS melalui zoom meeting.

Dalam simulasi, menggambarkan beberapa adegan, seperti cara penerimaan pemilih oleh petugas TPS, pembatasan jumlah orang di lokasi TPS, hingga adegan seorang pemilih yang bersuhu tubuh di atas 37 derajat celcius. Sehingga petugas TPS mengarahkan untuk menggunakan hak pilihnya di bilik khusus yang telah disiapkan sesuai protokol penanganan covid-19. Namun pemilih tersebut ingin diperlakukan sama seperti pemilih pada umumnya. Kemudian memaksa masuk dan dihalang oleh petugas. Selanjutnya petugas TPS mencoba membujuk pemilih untuk bersedia mencoblos di bilik khusus, dan pemilih tersebut mengikuti arahan petugas.

Kapolres Sumbawa, AKBP Widy Saputra, SIK usai simulasi kepada wartawan menyampaikan, pelaksanaan simulasi dalam rangka mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan saat pemungutan suara di TPS pada 9 Desember mendatang. Terutama menyangkut pelanggaran protokol kesehatan, karena saat ini pandemi covid-19 masih mewabah. Melalui simulasi ini, diharapkan petugas TPS benar-benar memahami peran dan fungsinya masing-masing. Terutama berkaitan dengan protokol kesehatan penanganan covid-19. Sebab kerumunan masyarakat dapat terjadi saat menggunakan hak pilihnya di TPS. Karennya simulasi semacam ini perlu dilakukan. “Hari ini kita melaksanakan simulasi di saat pencoblosan di TPS. Kami dari Polres, Kodim, KPU, Bawaslu, menyamakan persepsi bahwa situasi pelaksanaan pencoblosan dengan penekanan protokol kesehatan itu betul-betul dipahami oleh petugas KPPS, Linmas maupun personil yang melakukan pengamanan,” ujarnya.

Dijelaskan Kapolres, penekanannya petugas TPS harus benar-benar menerapkan protokol kesehatan selama proses pemungutan bahkan hingga penghitungan suara di TPS. Seperti bagaimana mengendalikan antusias masyarakat pemilih yang akan menggunakan hak pilihnya agar tidak berkerumun. “Karena ini pandemi, sehingga penegakan protokol kesehatan yang utama. Apabila ada yang suhu tubuhnya di atas 37 derajat celcius, bagaimana menanganinya. Ada juga pemilih yang tidak masuk DPT. Itu yang perlu dipahami oleh petugas di TPS. Harapannya ini diketahui oleh seluruh jajaran KPPS di semua TPS,” terangnya.

Komisioner KPU Kabupaten Sumbawa, M. Kaniti menambahkan, simulasi yang dilaksanakan sudah sesuai dengan kondisi real di lapangan. Terkait bilik khusus, ini merupakan salah satu cara KPU mengatur pemungutan suara di tengah pandemi. Meski memiliki suhu tubuh di atas 37 derajat celcius, belum tentu terpapar covid-19. Namun upaya pencegahan tetap dilakukan.

Ia mengingatkan, KPPS 6 harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap saat hari pemungutan suara. Karena tugas dari KPPS 6 ini akan melayani pemilih yang memiliki suhu tubuh di atas 37 derajat celcius. Termasuk jika ada pemilih yang pingsan di TPS. KPU juga menyiapkan 20 persen masker di TPS untuk mengantisipasi pemilih yang tidak menggunakan masker saat datang ke TPS. (ind)