Pengakuan Tersangka Suami Bunuh Istri, Pernah Cerai Tapi Rujuk Lagi

Kapolresta Mataram Heri Wahyudi (paling kiri) didampingi Kasatreskrim Polresta Mataram Kadek Adi Budi Astawa meginterogasi tersangka pembunuhan istri sendiri, Asgar, Senin, 19 April 2021.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Halimatussadiah (29) sudah tiada berkat tusukan di lehernya. Asgar (30), suaminya, berkubang dengan penyesalan. Istrinya itu meninggal dengan tangannya sendiri. Wanita yang menemaninya hidup bersama 11 tahun lamanya. Bahtera rumah tangga mereka pernah dihantam badai. Sampai karam.

“Saya bukannya rencana membunuh istri saya sendiri. Saya tidak ada niat membunuh istri saya. Saya minta maaf. Saya bukan bermaksud membunuh dia,” kata Asgar menjawab interogasi Kapolresta Mataram Kombes Pol Heri Wahyudi, Senin, 19 April 2021. Asgar membangun kembali rumah tangganya dengan Sadiah empat bulan lalu. “Sempat pisah karena dia selingkuh. Saya maafkan dia. Dia minta sama saya maharnya Rp20 juta untuk rujuk. Saya turutin,” ujarnya.

Iklan

Keputusannya meminang Sadiah 11 tahun silam tidak butuh waktu lama. Awalnya dia hanya dikenalkan temannya. Kemudian Asgar dan Sadiah bertukar nomor ponsel. “Setelah kurang satu bulan langsung kawin,” cerita Asgar. Perkawinannya melahirkan dua anak. Yang paling besar berumur sembilan tahun. Si bungsu baru berumur tiga tahun. Dua anaknya dititipkan di orang tuanya. Keduanya sempat bercerai lalu rujuk lagi. Mereka kemudian memulai bisnis berjualan buah-buahan di depan Markas Lanud ZAM Rembiga.

Hari demi hari dilalui Asgar dengan sabar. Meskipun perilaku istrinya tidak menunjukkan perubahan. Rujuknya mereka bahkan hanya dianggap sepele istrinya itu. “Kemarin dia sempat minta cerai tapi saya tidak mau. Alasannya dia kita ini cuma kawin kontrak,” jelasnya. Puncaknya pada pekan lalu. Mereka bertukar argumen sejak Jumat, 16 April 2021 di tempat mereka berjualan. “Dia teleponan dengan orang. Tidak sampai satu jam. Cuma 20 menit,” kata Asgar menceritakan awal mula dirinya mulai memanen bibit amarah.

Istrinya, Sadiah jengah kemudian berkelakar untuk berhenti ikut berjualan dengan suaminya itu. Bahkan mengancam hendak berhubungan badan dengan pria lain. Asgar gelap mata. Pisau yang dipakai memotong buah-buahan ditancapkannya ke leher istrinya. Sadiah lalu terkulai. Asgar mencabut pisau. Sempat dia berusaha menutupi bekas luka tusukan. Barang dagangan kemudian dirapikan. Istrinya dinaikkan ke bak pikap. Asgar sempat pulang ke rumah di Moncok Karya, Pejarakan Karya, Ampenan, Mataram untuk membuang ponsel.

Hari sudah menunjukkan pukul 02.00 Wita. Dia lalu beranjak ke RS St Antonius Ampenan, Mataram. Tapi kondisi Sadiah sudah parah. Asgar disarankan merujuk istrinya ke RS Bhayangkara Mataram. Pikirannya makin bingung. “Saya mau selamatkan dia tapi dia sudah parah. Saya langsung menyerahkan diri ke Polsek Ampenan. Saya menyerahkan diri karena saya merasa bersalah,” kata Asgar dengan mata yang memerah.

Sementara Heri mengatakan, Asgar sudah ditetapkan sebagai tersangka dengan jeratan pasal 338 KUHP subsider pasal 351 ayat 3 KUHP atau pasal 44 ayat 3 UU RI No23/2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. “Ancamannya penjara paling lama 15 tahun,” sebutnya.

Kasatreskrim Polresta Mataram Kompol Kadek Adi Budi Astawa mengatakan tim penyidik sudah menganalisa hasil olah TKP. Kemudian tim dokter forensik RS Bhayangkara Mataram sudah menyelesaikan autopsi jenazah. “Penyebab korban meninggal karena pendarahan hebat akibat terputusnya pembuluh darah vena,” ungkapnya. (why)

Advertisement