Penertiban Bangunan, Syuting Film Korea Sempat Tertunda

Tanjung (Suara NTB) – Penertiban bangunan di areal sempadan Pantai Gili Trawangan berbarengan dengan syuting Variety Show produser asal Korea Selatan. Oleh karena bangunan tempat pengambilan visual kena gusur, momen itu pun sempat menjadi bahan protes pihak rumah produksi asal negeri Ginseng tersebut.

Kepala Desa Gili Indah, H. M. Taufik, kepada koran ini membenarkan syuting film Korea di Gili Trawangan sempat tertunda. Pasalnya manajemen CJ E&M yang melakukan syuting variety show bertajuk “Love in Indonesia” melakukan protes, karena salah satu bangunan lokasi pengambilan gambar dirobohkan tim penertiban.

Iklan

“Syuting sempat ricuh sebentar karena ada protes dari orang Korea. Tetapi syuting tetap berlanjut walaupun bangunan sudah roboh, karena kita langsung mencarikan bangunan alternatif di tempat lain di sekitar itu,” kata Taufik.

Kades menyebut, lokasi baru syuting yang disepakati oleh produser memilih bangunan di Nusa Dua Gili Trawangan milik warga, H. Sanusi. Dengan dipilihnya lokasi baru ini, maka syuting film kembali dilanjutkan.

Menurut Taufik, walaupun pemilik bangunan lama yang dirobohkan sudah bersurat ke pemerintah daerah untuk menunda pembongkaran, namun hal itu tak digubris. Ia mengakui, dalam proses syuting dan penertiban terdapat miskomunikasi dari pihak pembuat film dengan pemerintah daerah.

“Saya selaku aparat desa memang sudah mengiyakan dan berkomunikasi juga dengan Pak Bupati. Cuma, sprint (surat perintah) haruskan dibongkar, sehingga tim tidak berlama-lama untuk merobohkan,” sambungnya.

Akibat kejadian itu, kades mengakui timbul kekecawaan pada pihak pembuat film, karena telah mengeluarkan biaya sewa bangunan. Namun manajemen CJ E&M juga legowo, dan mengerti dengan keputusan Pemda KLU untuk menata dan membuat kawasan 3 Gili menjadi lebih elok.

Taufik menilai, peristiwa ini tidak akan berdampak secara signifikan terhadap proses pengambilan gambar maupun image Gili Trawangan secara keseluruhan. Sebab, substansi pengambilan gambar di Gili Trawangan telah sesuai dengan skenario produser.

Sebaliknya bagi Taufik, para wisatawan justru semakin antusias melihat kondisi Trawangan pascapenertiban selama 4 hari yang lalu. Pengunjung lebih leluasa menikmati suasana pantai tanpa terhalang oleh bangunan milik warga dan pengusaha.

“Awal memang ada tamu yang sering makan di pinggir pantai mengeluh, tetapi lebih banyak pengunjung yang menikmati dampak positifnya. Rata-rata tamu yang baru datang langsung bisa menikmati suasana, sangat antusias dan menilai langkah ini hal poitif,” demikian Taufik. (ari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here