Penerbangan Internasional Kuala Lumpur – Lombok Dibuka, Jadi Stimulan Pariwisata NTB

Ilustrasi aktivitas penerbangan di NTB. (Suara NTB/aan)

Mataram (Suara NTB) – Meningkatnya jumlah penerbangan di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (Bizam) disebut dapat menjadi stimulan kebangkitan pariwisata NTB. Terlebih dengan dibukanya penerbangan internasional Kuala Lumpur – Lombok pada Kamis, 2 Juli 2020.

“Ada kabar baik dari penerbangan, International Flight kita mulai tiga kali dalam satu minggu dari KUL (Kuala Lumpur) – LOP (Lombok) oleh AirAsia. Termasuk AirAsia akan melayani penerbangan domestik dari Jakarta – LOP dulu,” ujar Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) NTB, Lalu Moh. Faozal saat dikonfirmasi, Jumat, 3 Juli 2020.

Iklan

Dengan dibukanya penerbangan internasional tersebut, diharapkan mempermudah akses transportasi dari dan menuju NTB. “Itu artinya international flight kita mulai terbuka, dan kita juga dapat kabar Bali sudah buka dengan syarat yang lebih mudah. Bukan PCR, tapi rapid. Artinya kalau Bali sudah buka, kita juga dengan Tiga Gili pasti akan segera menyusul,” ujarnya.

Terpisah, Communication and Legal Section Head PT. Angkasa Pura I LIA, Arif Haryanto, menerangkan peningkatan jumlah penumpang dan penerbangan memang terjadi. Terutama dengan mulai beroprasinya beberapa maskapai dan dibukanya kembali rute internasional Kuala Lumpur – Lombok.

“Kalau dari jumlah penerbangan dari dan ke Lombok ada beberapa penambahan. Pastinya akan berpengaruh pada jumlah penumpang,” ujar Arif. Dicontohkan, pada Juni lalu jumlah penerbangan di Bizam berkisar antara 6-8 per hari, sedangkan sejak awal Juli jumlah penerbangan mencapai 19-22 per hari.

Sampai dengan 2 Juli, PT. Angkasa Pura I Bizam mencatat jumlah penumpang dari pintu kedatangan mencapai 744 orang, sedangkan dari pintu keberangkatan mencapai 573 orang. Jumlah tersebut didapat dari 7 penerbangan keberangkatan dan 7 penerbangan kedatangan.

“Untuk KUL – LOP ada 112 penumpang, dan LOP – KUL ada 2 penumpang,” jelas Arif. Diterangkan, seluruh penerbangan tersebut sampai saat ini masih mewajibkan pemenuhan beberapa syarat. Terutama untuk memenuhi protokol pencegahan Covid-19 yang terjadi.

Menurut Arif, sampai saat dalam pelayanan penerbangan pihaknya masih mengacu pada Surat Edaran (SE) Nomor 9 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Surat Edaran Nomor 7 Tahun 2020 yang dikeluarkan Satgas Covid-19 Nasional pada 26 Juni lalu.

“Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut, masyarakat yang hendak melakukan perjalanan dengan pesawat udara di dalam negeri (rute domestik) harus memiliki surat keterangan hasil pemeriksaan tes PCR negatif atau hasil uji rapid test nonreaktif yang berlaku 14 hari sejak surat keterangan tersebut diterbitkan,” ujarnya.

Dengan demikian, persyaratan yang harus dilengkapi bagi penumpang penerbangan domestik dan internasional yang akan masuk NTB antara lain menunjukan identitas diri yang sah, menunjukkan surat keterangan uji tes PCR dengan hasil negatif atau hasil uji rapid test dengan hasil non-reaktif, surat keterangan bebas gejala seperti influenza dari dokter, mengunduh aplikasi Peduli Lindungi pada perangkat telepon seluler, dan mengisi kartu kewaspadaan kesehatan (Health Alert Card/HAC) atau mengunduh aplikasi eHAC.

Khusus untuk penumpang internasional, penerbangan hanya dapat dilakukan dengan menunjukkan uji tes PCR. Serta diwajibkan menjalani karantina di tempat akomodasi karantina khusus yang disediakan pemerintah atau di hotel yang memenuhi standar bagi yang menunggu hasil tes tersebut.

“Nantinya di bandara, petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) akan melakukan pemeriksaan suhu tubuh terhadap penumpang serta melakukan validasi surat keterangan hasil pemeriksaan PCR atau rapid test milik penumpang. Petugas juga akan memastikan kartu kewaspadaan kesehatan atau Health Alert Card (HAC) secara elektronik maupun nonelektronik telah diisi oleh penumpang,” ujar Arif. (bay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here