Penerapan PPKM Mikro, Kasus Covid-19 Mulai Melandai di Daerah Zona Merah

Nurhandini Eka Dewi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB secara resmi menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro di desa/kelurahan yang berisiko tinggi atau zona merah Covid-19 sejak pekan lalu. Hal tersebut sesuai Instruksi Gubernur No. 180/01/kum/2021.

“Ada kecerderungan memang agak turun kasusnya. Tapi belum bisa kita klaim karena PPKM Mikro atau ndak. Kita akan evaluasi atau melihat selama 14 hari, dua minggu sesuai masa inkubasi,” kata Asisten III Setda NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A., dikonfirmasi Suara NTB, Rabu, 24 Februari 2021.

Iklan

Eka mengatakan, seperti Sumbawa yang saat ini masih berstatus zona merah Covid-19, ada kecenderungan kasus harian Covid-19 menurun. “Mereka memang kemarin cukup gencar melakukan tracing dan testing. Yang naik sekarang justru Mataram,” kata Eka.

Sebagaimana diketahui, saat ini ada empat daerah di NTB yang berstatus zona merah Covid-19. Yaitu, Sumbawa, Dompu, Bima dan Kota Bima. Memang, kata Eka, ada kecenderungan penambahan kasus harian di daerah tersebut mulai melandai.

Tetapi, mereka diingatkan jangan sampai lengah. Tracing dan testing harus tetap gencar dilakukan. “Kalau kita lihat mungkin minggu depan berubah empat daerah yang zona merah. Kita lihat laporan harian, minggu ini mulai melandai mereka,” ujar Eka.

Dalam upaya menekan tingkat angka kematian pasien Covid-19 di NTB, rapid test antigen sudah dianggap sebagai diagnostik. Artinya, jika ada yang positif berdasarkan hasil rapid test antigen, maka dinyatakan positif Covid-19.

Tujuannya, untuk menemukan kasus Covid-19 dari sejak awal. Sehingga pasien dapat segera ditangani. “Karena kita ingin menurunkan angka kematian. Sehingga harus dideteksi sejak awal,” terangnya.

Eka menyebut tingkat kematian pasien Covid-19 di NTB masih berada di atas 4 persen. Sementara, DKI Jakarta sudah berada di kisaran 1 persen. Bahkan secara nasional, tingkat kematian pasien Covid-19 sudah berada di angka 2,7 persen dan dunia 2,22 persen.

Untuk itu, deteksi dini dengan menggencarkan tracing akan mempermudah menemukan kasus Covid-19. Sehingga, pasien yang ditemukan bukan dengan gejala berat, tetapi ringan.

“Makanya temukan sebanyak mungkin. Daerah jangan takut menjadi zona merah. Karena 14 hari evaluasinya. Yang penting angka kematian kita bisa rendah,” jelasnya.

Eka mengatakan, risiko kematian penderita Covid-19 dengan penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) jauh lebih besar. Ia menyebutkan, pada 2020, jumlah kasus DBD di NTB sebanyak 4.300 orang dengan jumlah pasien meninggal 13 orang.

Kemudian, pada tahun yang sama, selama 10 bulan jumlah kasus Covid-19 di NTB sebanyak 5.600 orang. Dengan jumlah pasien yang meninggal dunia hampir 300 orang. “Artinya, risikonya jauh lebih besar dibandingkan DBD bila tidak ditemukan lebih awal,” terang mantan Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB ini. (nas)

Advertisement filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional