Marbot Masjid Berusia 60 Tahun Lulus Ujian Skripsi di Kampus UMMAT

Basri. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Menuntut ilmu tidak mengenal usia. Hal itu patut disematkan pada Basri. Kakek berusia 60 tahun itu akhirnya dinyatakan Lulus Ujian Skripsi di Universitas Muhammadiyah Mataram.

“Hari ini spesial buat saya dan Pak Rukimin. Membimbing Pak Basri di usianya yang ke 60 tahun dan pada akhirnya Alhamdulillah berhasil lulus,” terang Yusron Saudi, Dosen KPI UMMAT selaku pembimbing skripsi, Rabu, 22 Januari 2020.

Mengambil judul skripsi “Peran Forum Silaturahmi Marbot Masjid dalam Menghidupkan Suasana Ibadah di Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Lombok Utara“. Hal itu dipilih Basri lantaran profesi kesehariannya sebagai marbot masjid.

Baca juga:  Lebih Dekat Dengan Andria, Perempuan Peraih Doktor Termuda dari FH Unram

“Rajin dan menghargai waktu. Profesi sebagai marbot masjid yang selalu disiplin mengumandangkan azan ketika waktunya diterapkan juga ketika kuliah,” kata Yusron bercerita tentang sosok Basri.

Selain kuliah di jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, Basri juga menyelesaikan program bahasa arab di Ma’had Khalid bin Walid. Tentang kedisiplinan saat kuliah, Yusron menyebut yang bersangkutan jarang sekali telat, walaupun rumahnya di Lombok Utara.

“Semangatnya menuntut ilmu menjadi motivasi teman sekelasnya yang usianya jauh lebih muda darinya. Masa studinya juga tepat waktu yakni 4 tahun,” terangnya.

Mampu menyelesaikan semua kewajiban kuliah tepat waktu bukannya tanpa rintangan. Banyak rintangan yang dihadapi. Salah satunya ialah Basri harus hilang sebagian ingatannya saat mulai mengerjakan skripsi.

Baca juga:  Sekolah Rusak di Lombok Tengah Segera Diperbaiki

Hal itu lantaran Basri sempat mengalami kecelakaan ketika perjalanan dari Lombok Utara. Setelah kejadian, hampir seminggu tidak sadarkan diri di rumah sakit dan butuh waktu untuk kembali mengingat kejadian di masa lampau.

“Bisa dibayangkan pembahasan skripsinya seperti apa ya? Sebagai pembimbing tentu perlu ekstra sabar menghadapinya. Rajin mencari dosen untuk konsultasi. Semangat inilah yang mampu melawan daya ingatnya yang sebagian sudah hilang,” tutur Ketua KPID NTB ini.

Ada kisah menarik sehari sebelum ujian skripsi ketika Basri ke rumah Yusron membawa berkas skripsi untuk ditanda tangani. Ketika sampai di rumah, setelah salam kata pertama yang terucap adalah kalimat hamdalah.

Baca juga:  Dekatkan Akses Pendidikan, Pemkab Lotim Bangun Sekolah Filial di Dusun Tanjah-Anjah

“Alhamdulillah saya masih ingat rumah Bapak, walaupun sempat keliru.”

Sementara itu sehari menjelang pelaksanaan ujian skripsi, Basri harus menginap di masjid kampus UMMAT dikarenakan sepeda motor yang dia gunakan sehari-hari untuk kuliah ditilang polisi.

“Tadi malam saya menginap di Masjid depan Kampus Pak, motor saya masih di tilang di Lombok Utara ketika perjalanan ke kampus. Alhamdulillah kemarin bisa minta bantuan teman untuk antar ke kampus,” kata Yusron menuturkan kegigihan Basri dalam menuntut ilmu. (dys)