Terapkan “Zero Waste”

Kasman (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – KONSEP program NTB Zero Waste atau bebas sampah di lingkungan pendidikan mulai nampak. Sejumlah SMA/SMK di Provinsi NTB menerapkan konsep bebas sampah dengan beragam cara. Di SMKN 1 Praya Lombok Tengah telah dirancang sistem pembayaran Biaya Penyelenggaraan Pendidikan (BPP) dengan menggunakan sampah plastik.

Kepala SMKN 1 Praya Kasman, M.Pd., kepada Suara NTB, Kamis, 9 Januari 2020 mengatakan, pihaknya secara bertahap menerapkan konsep bebas sampah di lingkungan pendidikan ini. Awalnya di pertengahan tahun lalu, seluruh siswa dan guru membawa air minum dengan menggunakan botol sendiri. “Namun sejak tanggal 2 Januari 2020 kemarin, kami sudah benar-benar zero waste. Plastik sudah tidak boleh masuk di SMK 1 Praya dengan cara kita menyuruh anak-anak membawa botol air minum isi ulang dari rumah,” katanya.

Baca juga:  ‘’Zero Waste Goes to School’’, SMANSA Manfaatkan Limbah Jadi Wayang

Untuk isi ulangnya, pihak sekolah sudah menyediakan di masing-masing ruang kelas satu galon air untuk kebutuhan air minum seluruh siswa maupun guru. Pola ini diterapkan agar sampah plastik di lingkungan pendidikan tidak ada lagi, kecuali sampah plastik dengan tujuan akan dikumpulkan ke panitia.

Menurut Kasman, SMKN 1 Praya sudah menerbitkan Surat Keputusan (SK) terkait panitia penerimaan sampah plastik di lingkungan sekolah. Nantinya panitia akan menerima sampah plastik yang dibawa oleh siswa sebagai tabungan. Jika uangnya sudah terkumpul cukup banyak, tabungan dari sampah itu bisa digunakan untuk membayar BPP.

Baca juga:  Soal Sampah di Karang Kelok, Pemkot Koordinasi dengan Provinsi

“Misalnya siswa membawa sampah plastik dalam sehari sekilo atau setengah kilo lalu dikumpulkan oleh panitia. Nantinya pihak Bank Sampah yang akan mengambil langsung sampah yang akan dipilah tersebut,” tambahnya.

Meski demikian, tabungan sampah di lingkungan SMK 1 Praya ini belum mulai diterapkan, karena baru saja selesai dalam bentuk pemberikan SK kepanitiaan. ”Kita lakukan secara bertahap,” tegasnya.

Ia mengatakan, konsep bebas sampah di lingkungan pendidikan ini diterapkan untuk membentuk pribadi siswa agar tetap menjaga kebersihan. Juga untuk mengubah pola pikir bahwa sampah bukan barang  yang tak memiliki nilai, namun sampah adalah komoditas yang bernilai ekonomi jika dikelola dengan baik.

Baca juga:  Semangat Zero Waste Semakin Menyebar

Dalam beberapa kesempatan, Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah mengatakan, zero waste menjadi salah satu program prioritas Pemerintah Provinsi NTB dengan target 70% pengelolaan dan 30% pengurangan sampah di tahun 2023 nanti. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka semua elemen masyarakat harus terlibat dan mengambil peran nyata untuk mengendalikan dan mengelola sampah, termasuk SMA/SMK/SLB harus menjadi pusat informasi zero waste di lingkungan masing – masing.(ris)