Pelita di Kaki Rinjani

H. Marwan Hakim

Advertisement

Mataram (suarantb.com) – Sebuah peradaban dilahirkan di kaki Gunung Rinjani. Pondok Pesantren (Ponpes) Riyadul Falah,  perwujudan mimpi seorang lulusan SMP di perbatasan Taman Nasional Gunung Rinjani .

Wadah pendidikan berdiri di tengah keterbatasan. Tepatnya di Desa Aik Prapa, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur. Cahaya matahari menyingsing dari ufuk timur. Udara terasa sangat segar, udara khas pegunungan.

Sebuah tradisi harian tengah berlangsung. Imtak (Iman dan Takwa), sebelum masuk kelas dan memulai pelajaran. Mengaji, membaca asma`ul husna (nama-nama yang indah bagi Allah SWT), lalu bershalawat bersama-sama. Dimulai pukul 06.30 WITA. Wajib dilakukan di Ponpes Riyadul Falah. Dipimpin secara bergantian setiap hari oleh siswa. Itulah cara sederhana membangun kekuatan mental tampil di depan sebagai generasi, sebagai calon pemimpin.

Mukarrom, murid kelas III SMP Riyadul Falah nampak terlihat segar. Anak pasangan petani dan pedagang kios di desanya, di Sambelia, ujung timur Pulau Lombok. Jarak desanya ke sekolah puluhan kilometer. Namun orang tuanya memilih menyekolahkan Mukarrom di Ponpes ini. Meskipun, ada SMP negeri di tempatnya.

Mukarrom telah tiga tahun terakhir mondok di Riyadul Falah. Pondok yang disiapkan oleh Ponpes. Ia diserah mandatkan orang tuanya untuk dididik. Mukarrom mengaku bergembira bisa sekolah di Ponpes ini.

Mirayanti juga nampak ceria pagi usai Imtak. Ia siswi kelas II Madrasah Aliyah (MA/SMA) jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Mirayanti lebih memilih menghabiskan masa sekolahnya di Riyadul Falah, meskipun ada beberapa pilihan tempat mengenyam pendidikan di Kecamatan Aikmel.

“Saya terinspirasi seperti Haji Marwan. Karena itu saya memilih sekolah di sini,” kata Mira.

Dari Ponpes ini, Mira tahun 2017 lalu menjadi utusan mengikuti olimpiade IPA dan tahfiz tingkat Kabupaten Lombok Timur. Berhasil tembus sepuluh besar.

Ponpes Riyadul Falah di dirikan oleh H. Marwan Hakim, seorang lulusan SMP.Menyelenggarakan pendidikan formal . Diantaranya, TK Ma`arif Riyadul Falah, MI/SD Ma`arif Riyadul Falah, SMP Riyadul Falah, MA/SMA Ma`arif Riyadul Falah, dan BLK Riyadul Falah. Sementara pendidikan non formal,  yaitu LKSDA Riyadul Falah, dan Majlis Ta`lim.

Marwan Hakim terlihat tengah mengawasi aktifitas belajar mengajar di Ponpes. Ia duduk di aula. Dengan penampilan sederhananya, mengenakan sarung merah marun tenunan Sasak. Baju koko warna caramel, menyelempang surban di leher, dan kopiah putih di kepalanya.

Sambil menghisap rokok, diamatinya setiap sudut dari kejauhan. Ingin memastikan, tidak boleh ada anak-anak di luar kelas saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. H. Marwan bergegas naik ke lantai dua. Melihat aktifitas belajar mengajar sedang kosong di salah satu ruang kelas MA. Mengucapkan salam, lalu masuk kelas. Diangkatnya secarik kertas di atas meja guru. Berisi permohonan izin salah satu siswa MA Riyadul Falah yang tak masuk karena alasan sakit.

“Kalau sudah sakit berhari-hari, jenguk temannya. Ketua kelas harus segera berinisiatif.  Kalau gurunya belum datang, buka pelajarannya dan diskusi,” pesannya kepada para siswa siswi, lalu mengucapkan salam kembali dan berlalu.

Di gedung bawah di lantai satu, seorang guru Bahasa Inggris di amatinya menyampaikan pelajaran. Murid-murid di dalam kelas juga tak luput dari pengamatannya. Lalu melihat jauh, ibu-ibu yang tengah duduk menunggu anak-anaknya belajar di ruang TK sederhana.

Seperti itulah potret keseharian H. Marwan Hakim sebelum ia pergi berladang. Ia harus meyakinkan dirinya terlebih dahulu, kegiatan belajar mengajar di Ponpes kondusif. H. Marwan Hakim adalah lulusan SMP yang kandas melanjutkan pendidikannya.

Bapak tiga anak ini terpaksa harus balik kampung dari sebuah Ponpes di Kota Mataram, tahun 2001 silam.Tidak ada biaya untuk melanjutkan pendidikan. Meski tak mampu melanjutkan pendidikan, ia menyandang nama mantan santri. Didikan sebuah Ponpes di Pagutan, Kota Mataram.

Stigma sebagai mantan santri, cukup di hormati di desanya. Saat ia pulang kampung, satu pesatu orang tua di tempat tinggalnya menyerahkan anak-anaknya untuk dididik ilmu agama oleh H. Marwan.

“Sampai sekitar 150 orang saya ajarkan ngaji. Padahal, saya sudah merencanakan mau ke Brunei (menjadi TKI) saat itu,” kenangnya ketika media ini mejumpai pada Kamis, minggu ke-3 November 2019.

Dalam perjalanannya, anak-anak yang diajarkannya mengaji mendesak, ingin sekaligus dididik secara formal. Hingga desakan tersebut memunculkan inisiatif mendirikan diniyah (pendidikan keagamaan klasikal/non formal).

“Karena keterbatasan saya berbahasa. Misalnya kesulitan saya mengajarkan makna kitab. Anak-anak memandang perlunya pendidikan formal,” ujarnya.

Berfikir tentang membangun sekolah dianggapnya terlalu elit. Karena konsekuensinya, harus disiapkan pondok. Sementara, masyarakat di Aik Prapa saat itu masih sangat apatis dengan pendidikan formal. Umumnya, masyarakat adalah petani, peladang, peternak, atau orientasi sebagai pekerja migrant (TKI/TKW). Salah satu persoalan sosial adalah pernikahan dini sebagai hal biasa di kalangan masyarakat.

Namun karena keinginan kuat merubah mind set masyarakat, H. Marwan mantap merintis pembangunan sekolah, seadanya. Di dukung swadaya masyarakat. Dimulai sejak tahun 2004, lalu bertahap dibangun sekolah hingga MA (setingkat SMA) sampai tahun 2009.

Terus berproses. Hingga saat ini, siswa-siswi MA dikelola sebanyak 65 orang.  SMP 172 pelajar, dan MI sebanyak 125 murid. Dan sebanyak 45 peserta didik di TK. SMP dan MA sudah terakreditasi B, MI masih terakreditasi C.

Sarana prasarana di Ponpes Riyadul Falah didirkan diatas lahan miliknya, seluas 60 are.  Berdiri gedung SMP 7 ruangan. MA 4 ruangan, dan MI 5 ruangan kelas. Hanya kelas MI dan TK yang nampak paling memperihatinkan. Menggunakan dinding triplek, beratap asbes dan berlantai tanah. Belum ada biaya yang cukup untuk membangunnya. Satu kelaspun di gunakan bersama dengan kelas lainnya.

Gedung SMP dan MA sudah cukup refresentatif. Dua kelas MA bahkan menggunakan lantai dua. H. Marwan, pria tiga anak kelahiran 1978 ini berstatus sebagai pendiri, sekaligus pembina di Ponpes Riyadul Falah sampai saat ini.

Dari perdaban yang dibangunnya ini, nampaklah terjadi perubahan pola pandang masyarakat tentang arti pentingnya pendidikan. Ponpes ini juga menampung 56 orang tenaga pendidik. Mereka datang dari berbagai desa di luar Aik Prapa.

“Saya puas, dan saya bangga, sekolah ini bisa jalan,” kata H. Marwan meluapkan perasaannya.

Lokasi Ponpes Riyadul Falah jaraknya berkilo-kilo meter dari aspal mulus Kecamatan Aikmel. Melewati beberapa perapatan, petigaan, lalu menanjak. Mengikuti jalan beraspal kasar, berlubang dan berdebu.

Namun dari kaki Rinjani inilah, nama H. Marwan Hakim melejit. Tahun 2013 lalu, H. Marwan Hakim diganjar penghargaan oleh PT. Astra International, Tbk  sebagai salah satu tokoh pendidikan dari program Satu Indonesia Award.

Ia diberikan dana tunai sebagai penghargaan, nilainya sebesar Rp55 juta. H. Marwan Hakim diusulkan namanya diam-diam oleh salah seorang mahasiswa di Yogyakarta dari desanya. Semangatnya membangun tempat pendidikan ditengah keterbatasannya dinilai layak menjadi inspirasi di Indonesia.

Astra menginisiasi program Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards yang tahun 2019 ini memasuki satu dasawarsa dan telah mengapresiasi 305 anak muda. Terdiri dari 59 penerima tingkat nasional, dan 246 penerima tingkat provinsi di lima bidang. Yakni Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi.

Marwan Hakim kemudian pada tahun 2014 lalu diundang khusus sebagai bintang tamu talk show sebuah televisi swasta nasional, Kick Andy. Di acara ini, Presiden Direktur PT. Astra International, Tbk kembali memberikannya penghargaan sebesar Rp100 juta.

“Uang-uang yang saya diberikan itu hanya sedikit saya pakai. Sisanya untuk terus membangun gedung sekolah. Mimpi saya, sekolah ini tak kalah dengan sekolah negeri sampai pada saatnya nanti,” ujarnya.

Semangat H. Marwan tak berhenti di hargai oleh Astra. Setiap tahun, manajemen Astra International berkunjung. Bantuan terakhir yang diberikan adalah 21 perangkat komputer dan server untuk mendukung para siswa MA mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).

Semangatnya ini belakangan banyak di contoh. Tidak jarang ada yang mendatanginya, berkonsultasi untuk membangun lembaga pendidikan sepertinya.

“Mereka yang datang konsultasi itu sudah pada bangun sekolah juga. Di Aikmel, di Anjani, Bagek Papan,” ujarnya.

Dari Ponpes ini ia tak mengharapkan kembalian materi. Para pendidikpun hanya digaji Rp15.000/jam. murni fastabiqul khairat (berlomba melakukan kebaikan).  Pendidikan karakter sangat ia tekankan, untuk lulus dari Ponpes ini. Minimal harus menghafal 1 juzz Al Quran. H. Marwan Hakim berbahagia, bisa  berkontribusi membangun SDM yang lebih baik, paling tidak di lingkungan sekitarnya.

Rosidi, Kepala Sekolah MA Riyadul Falah mengungkapkan, pendekatan pendidikan adalah penyatuan kekuatan emosional antar siswa, guru, dan masyarakat sekitar. Mengabdi di Ponpes ini menurutnya penuh tantangan. Apalagi di Aik Prapa, sangat menonjol menikah dini.

Pelan-pelan karakter masyarakat di rubah. Melalui pendidikan formal dan non formal, serta kegiatan ekstrakurikuler. Diantaranya pengajian rutin, teater, dan Bahasa Inggris.

“Kalau dijadikan tempat ini sebagai sumber mata pencaharian, nilainya salah. Tapi ada tanggung jawab moral kepada generasi kita yang dibangun disini. Tiap tahun peminatnya naik, ada juga yang memilih pindah sekolah ke sini. Entah karena alasan apa,” demikian Rosidi.

Kepala Desa Aik Prapa, H. Muhammad Sahdi juga mengungkap syukur tak terhingga hadirnya sosok H. Marwan Hakim yang mewakafkan jiwa raganya membangun sarana prasarana pendidikan di desa yang dipimpinnya kini.  Ada 1.350 KK tinggal di Desa Aik Prapa. Dulunya, sebelum lahirnya Ponpes Riyadul Falah, mimpi masyarakat sangat sederhana. Menjadi TKI, atau menggembala ternak.

“Tidak ada yang memikirkan sekolah. Bahkan, untuk mendapatkan seorang Kadus (Kepala Dusun) saja, sangat susah. Setelah adanya sekolah ini, perangkat desa lulusannya saja yang ngisi. Hampir tidak ada anak yang tidak mau sekolah sekarang,” terangnya.

Desapun telah dibuat menjadi ramai. Apalagi dengan masuknya tamu-tamu yang berkunjung ke Ponpes Riyadul Falah. Dengan terdidiknya masyakat, sektor lain terdampak positif. Misalnya sektor pertanian. Masyarakat sudah mampu belajar bagaimana menjadi petani yang sukses.

“Banyak yang sudah jadi haji karena masyarakat sudah tau caranya bertani yang baik. karena mereka telah terdidik. Anak-anak kita sudah berilmu,” demikian H. Sahdi.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, H. Rusman SH, MH menyatakan dunia pendidikan sangat berbahagia dan berbangga denan pegiat-pegiat pendidikan  dalam rangka mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Nusa Tenggara Barat.

“Tentu kita sangat berharap ada Marwan Hakim – Marwan Hakim berikutnya muncul di NTB,” harapnya.

Ke depan, bagaimana mengangkat innovator-ianovator pendidikan akan dipehatikan mendapatkan penghargaan dari daerah. Ia mendorong, teruslah komponen masyarakat di NTB bersama-sama berinovasi, berkreasi dan berkontribusi terhadap dunia pendidikan. Dengan bermunculannya innovator-inovator pendidikan seperti H. Maran, menurutnya sebagai cara baik untuk mewujudkan pendidikan “NTB Gemilang”.

IPM NTB saat ini, berada di urutan ke 29 nasional berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru. SDM ini ditentukan tiga faktor, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Indikator pendidikan ini juga ditentukan dengan harapan lama sekolah, dan rata-rata lama sekolah.

“Dengan munculnya innovator-inovator ini. Akan banyak anak kita yang bisa sekolah, bisa tamat pendidikan. Lalu mudah masuk ke perguruan tinggi. Maka ini akan meningkatkan IPK kita lebih baik,” demikian kepala dinas.

Dan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, memberikan pandangan tentang semangat inovator pendidikan yang membangun kekuatan SDM di tengah keterbatasnnya memang dianggap layak dihargai. Hanya saja, untuk sekolah jenjang pendidikan, SD, dan SMP yang dibangun oleh masyarakat, kewenangan penuh kabupaten untuk mengintervensinya. Sementara di SMA, menjadi kewenangan provinsi.

Ia memberi apresiasi khusus atas semangat inovator pendidikan yang ada di NTB. Dan orang nomor satu di NTB ini meyakini, kepedulian PT. Astra International, Tbk turut mendukung pemerintah membangun masyarakat dan daerah akan memberikan dampak yang tidak kecil dalam jangka panjang.

“Saya meyakini, kalau Astra masuk, artinya perencanannya juga sangat matang. Dan menurut saya, jaminan mutunya yang dibina sangat jelas. Dan profesional,” demikian gubernur. (bul)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.