Kisah Guru di Tambora, Mengabdi 10 Tahun dengan Gaji Minim

Sugeng Purnomo saat mengajar di SDN Tambora. (Suara NTB/Ist)

Advertisement

Bima (Suara NTB) – Sugeng Purnomo, S.Pd menjadi guru di pelosok Kecamatan Tambora Kabupaten Bima selama 10 tahun lebih. Niat tulusnya menjadi guru tidak pernah goyah meski menerima insentif yang kecil, tiga bulan sekali.

Pria kelahiran 11  Mei 1989 ini mengabdi di SDN Tambora yang dulunya bernama SDN 1 Labuhan Kananga Kecamatan Tambora sejak Bulan Januari Tahun 2008 silam. ‘’Ketika itu honor saya hanya sekitar Rp300.000 untuk tiga bulan,’’ ujarnya kepada Suara NTB, Rabu, 27 November 2019.

Sejak mekar dari SDN Labuhan Kananga pertengahan tahun 2010, saat itu yang tersisa hanya sejumlah guru saja. Sedangkan SDN Tambora masih memiliki kelas jauh yang berada di Dusun Jembatan Besi. “Bahkan lebih dari 1 tahun saya mengajar berdua dengan teman guru sukarela lainnya.  Itupun secara bergantian setiap harinya,” katanya.

Untuk mengajar dari kelas 1 sampai 6, Ia mengaku hanya menerima honor Rp400.000 setiap tiga bulan. Namun setahun pergantian Kepala Sekolah sekitar Tahun 2013, ada tambahan guru honorer. “Honornya juga agak meningkat yakni Rp600.000 untuk tiga bulannya atau sekali pencairan dana BOS,” katanya.

Kemudian pada tahun 2015 lanjutnya, Sugeng mengaku mendapatkan SK kontrak daerah. Sejak itu sampai sampai sekarang, setiap bulannya menerima insentif sebesar Rp500.000 perbulan. “Tapi pencairannya tetap dua bulan hingga tiga bulan sekali,” katanya.

Diakuinya, 10 tahun 11 bulan mengabdi sebagai guru honorer bukanlah waktu yang singkat buatnya. Apalagi menyandang status sebagai guru kontrak dengan nominal insentif yang sangat minim.

“Saya mengabdi sebagai guru karena panggilan hati. Dan ini juga membuat saya bertahan sampai sekarang. Kalau bukan kita sebagai putra daerah, lantas siapa lagi yang akan membangun Tambora ini,” ujarnya.

Ia mengaku, di sekolah tersebut sudah ada sejumlah guru ASN yang ditugaskan. Namun nyaris tidak kelihatan batang hidungnya. Puluhan guru sukarela yang berupaya mengabdi pun satu persatu pergi meninggalkan SDN Tambora karena alasan ekonomi.

“Saya sendiri harus pandai mengatur waktu untuk mencari uang sampingan. Yakni menjadi kondektur truk, porter pendakian gunung, buruh pembersih kebun kopi hingga menjadi driver mobil,” katanya.

Sugeng berharap kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bima sebagai pengambil kebijakan untuk dapat melihat keadaan dan nasib guru sukarela di Kecamatan Tambora secara khusus. Dengan harapan bisa diperhatikan. “Harapan saya pemerintah bisa memperhatikan nasib kami di Tambora,” pungkasnya. (uki)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.