Hujan Sehari, RKB SDN 4 Gumantar Tergenang

Suasana belajar di SDN 4 Gumantar Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara. Ruang kelas memprihatinkan saat hujan turun beberapa hari lalu. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Kondisi SDN 4 Gumantar masih memprihatinkan. Pascagempa 2018 lalu, bangunan sekolah di Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU) itu, belum memperoleh sentuhan sarana fisik permanen.

SDN 4 Gumantar yang terletak di Dusun Tenggorong, tergenang. Sabtu, 2 November 2019, sebanyak 156 siswa yang ada di sekolah itu terpaksa belajar seadanya. Sebagian siswa belajar di bangku dengan lantai tanah sekolah yang becek dan tergenang air. Sementara di ruangan sekolah sementara lain, anak-anak juga belajar di atas lantai batu bata yang terlihat masih basah.

Sementara di bagian luar, tampak pemandangan air yang masih menggenangi bangunan sementara sekolahan. Guru terpaksa harus berjalan merambat di pinggiran dinding sekolah karena genangan tersebut.

Kepala Sekolah (Kasek) SDN 4 Gumantar, Ahmad, S.Pd., kepada Suara NTB mengaku di musim hujan mendatang siswanya terancam tidak bisa belajar rutin. Pasalnya, baru sekali diguyur hujan, sekolah SDN 4 Gumantar sudah dipenuhi oleh genangan air.

“Sekolah kami ini dulu dibantu oleh UGM, bangunan sementara dengan dinding triplek. Sedangkan dari DAK, kami dibantu rumah dinas. Kami anggap kurang penting, RKB ini harusnya didahulukan,” ujar Ahmad.

Ia menuturkan, situasi di sekolah yang kini dipimpinnya sudah dipantau oleh Dinas Pendidikan setempat. Namun anehnya, anggaran tidak teralokasi sampai saat ini.

Baca juga:  Pemkot Antisipasi Cuaca Ekstrem

Sementara dari relawan gempa saat itu, Kasek mengklaim jika pihaknya akan dibantu oleh PMI. Sayangnya, PMI juga tidak kunjung datang memberikan bantuan.

Keanehan lain dari SDN 4 Gumantar ini pula, adanya proyek yang didanai dari bantuan Pemda DKI Jakarta. SDN 4 Gumantar memperoleh alokasi 3 ruang. Namun lantai ruangan tersebut tidak disemen apalagi dikeramik. Situasi ini berbeda dengan sekolah lain di mana pengerjaan dari dana kebijakan Gubernur DKI itu, tuntas sampai finishing.

Kok sampai seperti ini pengerjaannya, kami juga heran,” keluh Ahmad.

Sementara itu, tokoh masyarakat Gumantar sekaligus anggota DPRD KLU, Narsudin, S.Sos., menyayangkan tidak diperhatikannya SD di wilayah pedalaman. Pada alokasi  DAK Dikpora, sekolah-sekolah yang dalam kondisi memprihatinkan idealnya mendapat prioritas lebih awal.

‘’Saya dengar akan dibantu PMI, tetapi jika tidak ada, harusnya diperhatikan melalui DAK. Di APBD-P kemarin tidak ada, di KUA PPAS besok ini saya belum tahu, karena kita harus cek lagi,’’ ujarnya.

SDN 4 Gumantar sejak pascagempa diakuinya hanya mendapat bangunan sementara. Itu pun tidak seluruh RKB dibangunkan relawan. Sebab, terdapat tiga ruang yang dibangun oleh warga dengan konstruksi bambu dan beratap rumbia.

Baca juga:  Pemkot Antisipasi Cuaca Ekstrem

“Warga kami sampai harus gotong royong saking lambannya penanganan Pemda, padahal di DAK itu ada yang belum tersalur,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Bappeda Lombok Utara sekaligus Wakil Ketua TAPD, Heryanto, SE langsung merespons keluhan warga Tenggorong dan pihak sekolah. Ia bahkan langsung mengajak pejabat OPD terkait, membahas SDN 4 Gumantar secara serius.

“Sedang kami bahas serius di intern Bappeda. Semoga ada solusi,” ujarnya sembari berharap DAK teralokasi untuk SD tersebut.

Informasi sementara disampaikan Heryanto, bahwa berdasarkan koordinasi jajarannya dengan Dikpora, pihak Dikpora masih akan melihat mana belanja yang bisa ditunda di APBD-P 2019, akan dialihkan ke sekolah tersebut. Jika tidak ada penundaan anggaran, maka sekolah tersebut akan diprioritaskan tahun 2020 mendatang. Mengingat, pada usulan DAK 2020 untuk Pembangunan RKB dan rehabilitasi di SDN 4 Gumantar direject oleh Kementerian lantaran tidak memenuhi syarat, dimana data dapodik sekolah tidak terupdate.

‘’SD ini awalnya akan dibantu PMI, itu mengapa dikeluarkan dari usulan Dikpora. Kondisi lahan sekolah dan drainase juga memerlukan penataan,’’ tandasnya. (ari)