Tak Melanjutkan Pendidikan Menengah, Kemiskinan dan Pernikahan Dini Jadi Pemicu

Aidy Furqon (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Sebanyak 32.355 anak NTB tidak melanjutkan pendidikan menengah tingkat SMA/SMK dan SLB sederajat  pada 2018 lalu. Penyebab 32.355 anak usia 16-18 tahun ini tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah akibat faktor kemiskinan dan pernikahan dini.

Demikian diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, melalui Kepala Bidang Ketenagaan Dinas Dikbud NTB, Dr. H. Aidy Furqon, M. Pd kepada Suara NTB, akhir pekan kemarin.

Ia menyebutkan,  ada beberapa faktor yang menyebabkan anak- anak usia 16-18 tahun tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah. Pertama, faktor ekonomi yaitu kemiskinan. Namun persoalan kemiskinan ini diklaim sudah teratasi dengan biaya sekolah gratis kepada siswa kurang mampu dengan memberikan  Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Aidy mengatakan, anak-anak kurang mampu yang tidak melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan menengah jumlahnya terus berkurang. ‘’Setiap tahun jumlahnya terus menurun,’’ ujarnya.

Faktor kedua, penyebabnya masih banyaknya pernikahan dini. Banyak anak-anak usia 16-18 tahun yang menikah ketika akan menempuh ujian nasional. Banyak juga anak-anak kelas III SMP sederajat yang putus sekolah karena pernikahan ketika menjelang ujian nasional.

Selain itu, kata Aidy, banyak juga anak-anak usia sekolah menengah yang mencari pekerjaan, niatnya membantu orang tua. Sehingga tak jarang mereka putus sekolah. “Upaya yang kita lakukan mengoptimalkan sekolah terbuka, SMA terbuka,” ujarnya.

Saat ini sudah ada SMA Terbuka yang berada di SMA 1 Narmada Lombok Barat. SMA Terbuka ini untuk menampung anak-anak SMA/SMK sederajat yang putus sekolah karena perkawinan dan faktor lainnya.

Baca juga:  Dikbud NTB Buka Pendaftaran Seleksi Calon Kepsek

‘’Kita sudah menamatkan. Jadi mereka yang sudah beranak pinak itu melanjutkan di situ dengan pola on off,’’ katanya.

Ia menjelaskan pola on off tersebut adalah anak-anak yang putus sekolah masuk ke SMA Terbuka. Di sana mereka belajar secara berkala, dua atau tiga bulan sekali. Gurunya berasal dari SMA/SMK terdekat dan tutor paket C. Kemudian nanti mereka juga ikut ujian nasional di sekolah induk.

‘’Itu kita dorong untuk mengurangi angka anak tidak melanjutkan sekolah. Kalau faktor kemiskinan sudah teratasi dengan biaya pendidikan gratis bagi yang miskin. Sekarang tinggal motivasi mereka melanjutkan saja,’’ katanya.

Aidy menambahkan, penyebab anak tidak melanjutkan sekolah jenjang pendidikan menengah  bukan karena keterbatasan akses layanan pendidikan. Ia menyebut akses pendidikan sudah menyebar di seluruh NTB. Jika pada suatu daerah tidak ada sekolah negeri, maka sudah ada sekolah swasta.

Bahkan dengan pola  zona yang sudah diterapkan dua tahun terakhir, semakin mendekatkan anak ke sekolah terdekat. Sehingga tidak lagi butuh biaya besar untuk  bersekolah.

Ia menyebut angka partisipasi sekolah setiap tahun terus meningkat. Namun dalam perjalanannya, tidak semua anak tuntas pendidikannya. Kadang ada yang putus sekolah dengan berbagai faktor yang ada.

Untuk itu, langkah-langkah yang dilakukan dengan pemetaan zona. Daerah-daerah yang padat penduduk maka harus dibangunkan sekolah baru. Jika penyebabnya akibat pernikahan dini, maka diintensifkan pelaksanaan sekolah-sekolah terbuka baik SMA maupun SMK.

“Tantangan kita juga  mereka yang tidak melanjutkan sekolah ini banyak yang tertarik bekerja. Seperti di daerah wisata, karena  tak perlu keterampilan khusus. Cukup ijasah SMP, bisa menyapa tamu dengan baik maka bisa diterima bekerja,” tandasnya.

Baca juga:  Dikbud NTB Buka Pendaftaran Seleksi Calon Kepsek

Berdasarkan data Pemprov dalam NTB Satu Data, sebanyak 32.355 anak usia 16-18 tahun tidak mengenyam pendidikan menengah pada 2018 lalu. Jumlah penduduk NTB usia 16-18 tahun pada tahun ajaran 2017/2018 sebanyak 267.651 orang.

Dari jumlah penduduk usia 16-18 tahun tersebut, yang menempuh pendidikan menengah hanya  sebanyak 235.296 orang. Sebanyak 235.296 anak yang mengenyam pendidikan menengah dengan rincian, untuk SMA 98.354 orang, MA 66.799 orang, SMK 66.509 orang, Paket C 3.381 orang dan SMALB 254 orang.

Dengan melihat selisih jumlah penduduk usia 16-18 tahun dengan anak yang bersekolah pada jenjang tersebut,  sekitar  32.355 anak NTB yang tidak mengenyam pendidikan menengah pada tahun 2018. Anak usia 16-18 tahun yang tidak sekolah tersebar di Lombok Barat 10.742 orang, Lombok Tengah 15.574 orang, Lombok Timur 19.556 orang, Sumbawa 5.871 orang, Dompu 2.662 orang, Bima 4.236 orang, Sumbawa Barat 436 orang, Lombok Utara 3.321 orang, Kota Mataram 481 orang, dan Kota Bima 895 orang.

Dari data tersebut, terlihat APM sekolah  menengah untuk masing-masing kabupaten/kota di NTB. Lombok Barat sebesar 80,18 persen, Lombok Tengah 85,79 persen, Lombok Timur 89.09 persen, Sumbawa 86,74 persen. Kemudian Dompu 88,91 persen, Bima 93,70 persen, Sumbawa Barat 93,31 persen, Lombok Utara 79,42 persen, Kota Mataram 96,21 persen dan Kota Bima 91,55 persen. (nas)