Lomba Hifzil Qur’an Tingkat Nasional, Santri TPQ Nurusshaufi NW Dasan Poto Wakili NTB

Santri Nursusshaufi NW Dasan Poto Desa Rarang Tengah Kecamatan Terara Baiq Amira Ginayatunnafisah  menerima penghargaan dan menjadi wakil NTB dalam ajang lomba tahfidz Qur'an tingkat nasional di Makassar. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Santri Nursusshaufi NW Dasan Poto Desa Rarang Tengah Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Baiq Amira Ginayatunnafisah (10 tahun) berhasil menjadi wakil NTB dalam ajang lomba Hifzil Qur’an tingkat nasional di Makassar. Terpilihnya Baiq Amira setelah berhasil meraih juara I lomba Hifzil Qur’an Pekan Keterampilan dan Senin (Pentas) Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat Kabupaten Lotim dan Provinsi NTB tahun 2019.

Selain juara I lomba Hifzil Qur’an katagori anak-anak PAI dan mewakili NTB lomba Hifzil Qur’an di Makassar. Baiq Amira juga merupakan salah satu hafidzah yang lolos menjadi peserta hafidz cilik 2019 yang diselenggarakan oleh salah satu stasiun televisi swasta pada bulan Ramadhan lalu di Jakarta. Namun perjuangannya kandas hingga 14 besar. Saat itu santri Nursusshaufi NW Dasan Poto Desa Rarang Tengah ini sudah hafal 20 juz. Sedangkan saat berangkat ke Makassar dengan hafalan 27 juz.

¬†“Ini merupakan suatu kebanggaan kami dari TPQ Nursusshaufi NW Dasan Poto Desa Rarang Tengah. Santri kita berhasil mengharumkan nama daerah di kancah nasional,” ucap Ketua TPQ. Nursusshaufi NW Dasan Poto Desa Rarang Tengah Kecamatan Terara, TGH. Lalu Ishaq, QH,Lc, kepada Suara NTB, Sabtu, 31 Agustus 2019.

Dikatakannya, santri kelas 6 di SDN 1 Rarang Kecamatan Terara sejak kecil sudah mendulang berbagai prestasi terutama di tingkat kabupaten. Menurutnya, ia sosok santri yang begitu konsisten dalam menghafal di Nursusshaufi NW yang saat ini memiliki santri sekitar 500 orang mulai dari tingkat TK hingga MA. “Santri kita mencapai 500 orang, di antaranya banyak yang sudah hafal Al Qur’an 9-10 juz bahkan lebih,”ungkapnya.

Memiliki potensi besar dalam mencetak hafidz-hafidzah, TPQ yang berusia sekitar 3,5 tahun masih belajar di ruang terbuka. Artinya fasilitas gedung sebagaimana mestinya belum dimiliki. Inilah yang menjadi ketakutan pengelola TPQ bersama masyarakat yang dikhawatirkan pembelajaran dapat terganggu. Di mana, pembelajaran yang biasa dilakukan pada sore hari ini hanya beralaskan terpal dan langit sebagai atapnya.

¬†“Jangan sampai pada musim hujan pembelajaran tidak dapat dilakukan. Kita berharap ada pihak-pihak dermawan maupun pemerintah daerah yang memberikan bantuan untuk membangun gedung TPQ,” harapnya. (yon/*)