Ribuan Murid Masih Belajar di Tenda dan Numpang di Rumah Warga

SDN 3 Mekar Sari Gunungsari yang belajar di sekolah sementara. Pihak sekolah dan masyarakat mengharap bangunan sekolah yang rusak akibat gempa dibangun kembali. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Hampir satu tahun pascagempa bumi yang melanda daerah Lombok Barat (Lobar) masih menyisakan masalah, terutama dari sisi perbaikan infrastruktur pelayanan pendidikan. Hingga kini 12 gedung sekolah yang rusak berat belum disentuh penanganan. Pembangunan sekolah ini pun terkesan tidak ada kejelasan, menyusul belum adanya kepastian kapan pembangunannya dari pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) yang berwenang dalam penanganan rusak berat. Akibat belum dibangunnya gedung sekolah ini, ribuan murid di belasan sekolah tersebut terpaksa belajar di sekolah sementara bahkan ada yang numpang di sekolah lain.

Seperti murid SDN 3 Mekarsari Kecamatan Gunungsari sampai saat ini masih numpang di rumah warga.  Sebanyak dua kelas di sekolah itu terpaksa melaksanakan KBM di rumah warga.  Sedangkan empat kelas lagi, belajar di bawah terpal yang kurang layak.  Mereka terpaksa belajar seadanya di rumah warga dan di bawah terpal menyusul sekolah itu belum mendapatkan bantuan sekolah sementara untuk tempat kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa dan siswi.

Akibat kondisi ini, proses KBM pun terganggu. Pihak sekolah saat ini sangat butuh sekolah sementara agar anak-anak bisa belajar lebih nyaman. Selain ruang jelas mereka rata dengan tanah,  ruang guru di sekolah itu juga rusak tidak bisa ditempati.

M. Hamdi, salah seorang guru di sekolah itu mengaku,  kondisi itu dialami semenjak gempa beberapa bulan lalu.  Disebutkan dari enam lokal kelas,  empat rusak ditambah ruang perpustakaan.  Dari enam lokal kelas,  terdapat 97 siswa.  Untuk proses belajar mengajar terpaksa di bawah terpal seadanya dan ada dua kelas numpang di rumah warga.

Kendala yang dihadapi akibat kondisi ini,  proses KBM menjadi tidak efektif. Sebab kalau pun ada kelas darurat menggunakan terpal,  hanya diberikan  1 lembar,  itupun ketika sudah siang anak kepanasan, sehingga anak-anak harus membuka pakaian.  Saat ini, ungkapnya,  murid di sekolah butuh sekolah sementara mendesak harus dibangun untuk efektivitas proses KBM.

Sementara itu warga setempat,  Nasrun mengatakan kondisi SDN 3 Mekarsari sangat memprihatinkan akibat gempa bumi. Di sekolah itu, hanya yang tersisa kantor kepala sekolah yang masih berdiri, namun itupun sangat tidak layak untuk ditempati para dewan guru. Sedangkan semua ruang kelas rusak total yang tersisa hanya puing-puing  bangunan. Anak-anak pun terpaksa belajar di bekas pondasi bangunan sekolah yang hancur, menggunakan atap terpal robek, beralaskan tikar seadanya yang sudah lapuk akibat diterjang hujan dan panas terus-menerus.

Kabid Sarana dan Prasarana pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lobar, L. Wira Kencana mengatakan untuk pembangunan sekolah rusak berat menjadi kewenangan Kementerian PUPR, sedangkan untuk perbaikan sekolah rusak sedang dan ringan sudah dialokasikan melalui DAK oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan senilai Rp 41 miliar. Jumlah DAK ini meningkat 3 kali lipat dibandingkan tahun 2018 hanya Rp 16 miliar lebih. Kenaikan diakibatkan banyak sekolah terdampak gempa khususnya rusak sedang dan ringan. “Kemendikbud hanya mengaloksikan untuk sekolah rusak sedang dan ringan, sedangkan untuk sekolah rusak berat domainnya Kementerian PUPR, ada 12 sekolah rusak berat belum tertangani,” jelasnya.

Sebelumnya ada 15 sekolah rusak berat dan 3 sekolah sudah dibangun tahun 2018 lalu. 1 unit oleh Kementerian PUPR dan 2 oleh pihak ketiga. Bagaimana dengan sisanya 12 sekolah lainnya? Pihaknya sudah mengirim data ke kementerian terkait, namun sejauh ini belum ada kejelasan penanganannya.  Sejauh ini kata ribuan murid di 12 sekolah ini masih belajar di sekolah sementara dan numpang di sekolah lain. (her)