Hibah Belmawa Kemenristek Dikti, FKIP Ummat Gelar Sosialisasi PDS

Dekan FKIP Ummat Hj. Maemunah foto bersama  Kepala BTIKP Dikbud Lalu Siswadi dan sejumlah dosen serta kepala sekolah peserta sosialisasi PDS. (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) mendorong peningkatan kapasitas dosen dan guru dalam penerapan teknologi pembelajaran dalam program Penugasan Dosen Sekolah (PDS). Tujuannya, untuk penguatan metode pembelajaran dengan pendekatan teknologi menyongsong revolusi industri 4.0.

Sosialisasi implementasi PDS berlangsung di aula FKIP Ummat Rabu, 3 Juli 2019, dihadiri Kepala Balai Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (BTIKP Dikbud) NTB, Lalu Siswadi SE, SP.d, sejumlah dosen dan kepala sekolah.

Program ini bersumber dari hibah Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristek Dikti RI sejak tahun 2018 lalu. Tahun 2019, ada dua skim yaitu implementasi bagi dosen dosen yang telah ditugaskan pada tahun 2018. Penugasan dosen yang baru untuk 2019 pada sekolah yang belum digunakan pada 2018. Sehingga secara bertahap akan ditugaskan pada semua sekolah mitra FKIP Ummat.

“Tahun ini dipilih  sekolah sekolah yang dimasuki pada 2018. Sehingga sebaran ilmu di dalam peningkatan sumber daya  guru merata. Target kita, semua sekolah di Pulau Lombok, akan mendapat semua dosen yang akan ditugaskan di sekolahnya,” kata Dekan FKIP Ummat, Dr. Hj. Maemunah, S.Pd., MH kepada Suara NTB usai sosialisasi, Rabu (3/7).

Tujuan program ini, ada kolaborasi antara dosen dengan guru dalam peningkatan kemampuan sebagai pendidik. Baik soal media pembelajaran maupun teknologi pembelajaran. Jika  guru sudah menguasai teknologi pembelajaran, maka menurutnya akan mudah menyosong revolusi industri 4.0.

Ada dua manfaat besar akan didapat baik bagi guru maupun dosen dari program Belmawa Kemenristek Dikti RI ini. Bagi dosen, menurutnya bermanfaat untuk revitalisasi guru, sekaligus observasi menyiapkan calon guru juga mengamati sebelum menempatkan mahasiswa KKN.

“Dosen akan mendapat masukan, bagaimana pelaksanaan praktik nanti. Sehingga bisa menyiapkan   pembelajarannya,” jelasnya. Sementara bagi guru di sekolah, dengan berkolaborasi secara akademik, kemampuan guru guru akan lebih meningkat. Terlebih, dosen yang ditugaskan punya sertifikasi, berpangkat lektor, dosen senior bergelar doktor dan megister.

Dosen  bersama guru juga bisa menulis karya ilmiah dengan pedoman Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Secara teknis dijelaskan, PTK diperoleh dari pembelajaran bersama oleh guru dan dosen. “Guru mengajarkan perangkat dua kali pertemuan, diobservasi oleh dosen.

Di sana dosen bisa melihat guru itu cara mengajar dan perilaku siswa bagaimana. Setelah itu, 8 sampai 10 kali dosen juga melakukan proses pembelajaran di sekolah, observernya guru tadi. Nah, ketika itu dilakukan, ada masukan dari guru kepada dosen. Jadi berkolaborasi, saling memberi masukan,” tandasnya.

Implementasi PDS memerlukan strategi tepat terkait dengan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran. Sebab menurutnya, calon guru masa depan juga harus mempunyai literasi baru yang diperlukan di era industri 4.0 yaitu literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia.

“Nanti saat dosen mengajar, tidak lagi pakai papan tulis, tapi sudah adaptasi dengan teknologi. Laptop, LCD projector sudah harus lengkap. Sehingga materi yang disampaikan lebih visual,” jelasnya. Pada akhirnya, tujuan PDS ini dapat memberikan pengalaman bagi para dosen LPTK dalam memahami perkembangan dan karakteristik peserta didik, mengelola kegiatan pembelajaran yang mendidik di sekolah, dan menghayati pengalaman keseharian dan nuansa sosio-kultural sekolah.

Selain itu, menghasilkan  perangkat  pembelajaran  kolaboratif  antara  dosen  LPTK dengan guru sekolah. Kemudian, menciptakan pembelajaran yang bermutu dengan indikator terciptanya iklim pembelajaran yang semakin baik, perangkat pembelajaran yang semakin berkualitas, dan meningkatnya kualitas output mahasiswa maupun output siswa.  (ars/*)