Lemah Awasi Siswa yang Bawa Ponsel, Kepsek Terancam Turun Jabatan

Mataram (suarantb.com) – Aturan pelarangan membawa ponsel ke sekolah telah diterapkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB di seluruh SMP dan SMA/SMK. Ada ancaman serius yang diberlakukan bagi kepala sekolah dan pengawas yang tak serius mengawasi penerapannya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, H. Muh. Suruji mengatakan kepala sekolah dan pengawas bisa dimutasi jabatan menjadi guru, jika tak becus mengawasi siswa-siswinya.

“Tidak ada sanksi langsung, tapi itu kan kinerja, rapor. Kalau ada kepala sekolah yg lemah menerapkan kebijakan itu kan rapornya merah, kalau ada pengawas yg lemah melakukan pembinaan pengawasan rapornya merah. Ya kalau rapor merah kan turun kelas,” kata Suruji, Selasa, 24 Oktober 2017.

Turun kelas tersebut dijelaskan Suruji adalah mutasi jabatan, yang awalnya dari kepala sekolah dan pengawas bisa diturunkan menjadi guru biasa. “Kalau orang lemah itu tidak akan dimutasi tempat, mutasi jabatan. Misalnya dari pengawas menjadi guru, dari kepala sekolah menjadi guru. Bukan mutasi dari sekolah satu ke sekolah lain. Itu sama dengan memindah penyakit, memindah masalah,” imbuhnya.

Lemahnya pengawasan ini dicontohkan mantan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga ini jika tidak ada sanksi langsung bagi siswa yang membawa ponsel ke sekolah. Siswa hanya diperingatkan, meski telah berkali-kali membawa ponsel ke sekolah.

“Kalau ada siswa bawa HP, dia bilang, “Nak jangan bawa HP ya,” itu aja. Besok bawa HP lagi, “Nak sudah bapak ingatkan kemarin ndak usah bawa HP” begitu katanya. Itu yang lemah,” tambah Suruji.

Pelarangan membawa ponsel ke lingkungan sekolah ini pun sebelumnya telah disosialisasikan langsung oleh Gubernur NTB, Dr TGH M Zainul Majdi dengan mendatangi sejumlah sekolah dan mengajak siswa berdialog. Hasilnya, sejumlah siswa-siswi menyetujui aturan tersebut sehingga dilakukan penerapan di seluruh sekolah se-NTB sejak Juli lalu. (ros)