Lulusan SMK Penyumbang Pengangguran Tertinggi di NTB

Advertisement

Praya (Suara NTB) – Data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB mencatat sampai Bulan Februari tahun 2017, angka pengangguran terbuka di NTB masih cukup tinggi. Kendati mengalami penurunan dari data tahun sebelumnya, yakni sebesar 3,6 persen atau sekitar 13 ribu orang lebih. Ironisnya, pengangguran terbuka tertinggi nyatanya merupakan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Padahal, menurut Kabid Penempatan dan Perluasan Kerja Disnakertrans NTB, Abdul Hadi, kepada Suara NTB, usai membuka Job Matching di SMK Negeri 1 Praya Tengah, Senin, 2 Oktober 2017,  SMK didirikan dengan visi mencetak tenaga kerja andal siap pakai. “Tapi pada kenyataannya, 11,12 persen pengangguran terbuka di NTB sekarang ini adalah lulusan SMK,” terangnya.

Artinya, ada persoalan yang membuat banyak lulusan SMK tidak bisa terserap di dunia kerja. Salah satunya, soal kompetensi dan kesesuaian jurusan yang dibuka dengan kebutuhan dunia kerja. Di mana disinyalir, banyak jurusan yang dibuka di SMK tidak sesuai dengan kebutuhan industri dan dunia kerja.

Solusinya, SMK-SMK di daerah ini harus mulai memikirkan bagaimana cara untuk terus memacu kompetensi lulusannya. Termasuk persiapan jurusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. “Saran kita, SMK-SMK yang ada di daerah ini segera melakukan up date jurusan yang dibuka. Mana jurusan yang sekiranya sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dunia kerja, dipertimbangkan kembali untuk dibuka,” sebutnya.

Dengan begitu, ke depan lulusan SMK bisa terserap optimal, karena jurusan yang dibuka, memang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan dunia kerja. “SMK itu ada kan untuk mencetak tenaga kerja siap pakai. Jadi harus sejak awal dipersiapkan. Jangan sampai lulusan SMK justru banyak yang menganggur,” ujarnya.

Untuk mengurangi angka pengangguran terbuka, terutama dari lulusan SMK pihaknya mulai tahun ini mengintensifkan kegiatan job matching di SMK-SMK yang ada di NTB. Di mana sampai bulan ini saja, pihaknya sudah menggelar 10 kali job matching supaya lulusan SMK dan tenaga kerja lainnya bisa terserap di dunia kerja.

Walaupun diakuinya, dari 10 gelaran job matching tersebut belum sesuai harapan. Pasalnya, dari sekitar 6 ribu lowongan yang dibuka. Hanya sekitar seribu lowongan yang terisi. Sisanya, sekitar 5 ribu lowong belum terisi. Salah satu penyebabnya, karena banyak angka kerja yang tidak mampu memenuhi kompetensi yang diminta dari lowongan tersebut.

Ke depan, kegiatan serupa akan terus ditingkatkan. Dalam arti, bukan hanya job matching di sekolah-sekolah saja, tapi juga job fair secara terbuka dengan mengundang perusahaan-perusahaan. Perusahaan yang diundang tidak hanya lokal NTB saja, bila perlu perusahaan luar NTB, sehingga angka kerja bisa lebih banyak lagi yang terserap dunia kerja. (kir)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.