Konflik Antarpelajar Masih Tinggi di Dompu

0
69

Dompu (Suara NTB) – Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Dikpora Kabupaten Dompu, Dr. Nuril Furkan, MPd mengakui konflik antarpelajar di Dompu masih tinggi. Tak sedikit persoalan ini menjadi pemicu perang antarwarga, bahkan bisa jadi mengancam stabilitas keamanan satuan pendidikan.

Selain konflik antarpelajar, persoalan lain yang kini menjadi pekerjaan rumah (PR) pihaknya yakni kekerasan seksual. Kasus ini meningkat cukup signifikan terjadi akhir-kahir ini, baik yang melibatkan sesama pelajar maupun yang menimpa peserta didik.

Melihat berbagai persoalan tersebut, penekanan yang dilakukan pihaknya terutama pada penertiban pelajar yang keluyuran saat jam belajar, kemudian meminta satuan pendidikan mengaktifkan kegiatan ekstrakurikuler yang berhubungan langsung dengan pembinaan karakter anak didik.

“Kita sudah berkoordinasi dengan Pol PP untuk mengamankan pelajar yang berada di luar saat jam sekolah, kemudian meminta sekolah mebuat kegiatan untuk pengembangan karakter anak,” katanya kepada Suara NTB, Rabu, 23 November 2016.

Menurutnya, konflik sosial yang terjadi di tengah masyarakat selama ini, sebagian besarnya bermula dari konflik antarpelajar. Selain akan merembet ke perang antarkampung, satuan pendidikan juga akan terancam seperti yang terjadi beberapa bulan lalu. Warga datang dan mengancam pihak-pihak yang ada di satuan pendidikan. Sehingga saran Nuril, mencegahnya haruslah dimulai dari kalangan pelajar itu sendiri.

Upaya lain untuk menekan kasus ini, yaitu melibatkan peran serta aparat penegak hukum, seperti mengintensifkan progaram jaksa masuk sekolah, upacara bendera yang dipimpin personel kepolisian dan kegiatan membangun lainnya. “Kita ikut mendapingi teman kejaksaan untuk memberikan ceramah-ceramah masalah hukum di satuan pendidikan, dan ini sudah berjalan. Juga surat himbauan sudah kita berikan pada masyarakat,” jelasnnya.

Sementara itu terkait kekerasan seksual dan penggunaan tramadol yang makin marak dilakukan kalangan pelajar saat ini, ia menegaskan, pencegahan kasus tersebut termasuk bagian dari upaya yang dilakukan selama ini. Hanya saja yang paling ditekankan pihaknya dalam persoalan ini yakni masayarakat umum khusunya orang tua murid. “Karena proaktif dan pengawasan yang intens dari orang tua dan masyarakat itu akan sangat membantu pihak sekolah, karena kita tidak bisa 100 persen mengawasi anak didik,” pungkasnya. (jun)

  Jambret Apes, Motor Mogok saat Kabur, Lalu Ditinggal Kawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here