Sekolah Beratap Terpal, Pelajar di Lotim Tetap Semangat

Selong (suarantb.com) – Potret minimnya fasilitas pendidikan kembali terlihat dalam kehidupan masyarakat NTB. Kali ini SD-SMP Satap (satu atap) 4 Desa Mekarsari Lombok Timur (Lotim) menjadi alarm pemanggil agar pemerintah secepatnya memfasilitasi pembangunan sekolah yang layak dan nyaman bagi pelajar.

Terletak di tengah ladang warga, yang hanya beratap terpal, dan berdinding rajutan kayu pohon kelapa. Tak ayal, sekolah tersebut akan banjir ketika musim hujan, dan sengatan panas ketika musim kemarau.
Inisiatif untuk membangun sekolah tersebut didasari tingginya angka kawin muda pasca tamat SD. Alasan untuk tidak melanjuti sekolah dikarenakan letak SMP yang cukup jauh. Sehingga mengharuskan mereka untuk menikah di usia dini. Atas dasar itu dibentuklah SMP yang berlokasi di bekas SD 6 Prigi ini, sehingga disebut SD-SMP Satap 4 .

“Siswa di sini pada dasarnya begitu tamat SD ada yang kawin muda, sehingga kami mempunyai inisiatif mendirikan sekolah satu atap. Karena itu, atas dasar kepedulian masyarakat terhadap pendidikan, maka SMP ini dibangun dari hasil swadaya masyarakat setempat,” ujar Kepala Sekolah SMP Satap 4 Sobirin, S.Pd, Selasa, 6 September 2016.

Sobirin menuturkan bahwa sekolah tersebut sering disebut sebagai kelas loncat dan kelas tunggu. “Mengapa dikatakan kelas loncat? Begitu kelas 6 olahraga, kelas 1 ini masuk di ruangan kelas 6, begitu pula sebaliknya. Kemudian ada juga disebut kelas tunggu, yakni menunggu kelas 1 pulang kemudian kelas 7 SMP masuk,” tuturnya.

Baca juga:  5.728 Keluarga Miskin Dikeluarkan dari Penerima PKH di NTB

SMP Satap 4 dibangun sejak tahun 2012. Meskipun usianya masih relatif muda, namun SMP tersebut telah dua kali meluluskan siswa. Semua siswa lulus karena motivasi belajar yang tinggi.

terpal

Kondisi bangunan SD-SMP Satap 4 yang hanya beratapkan terpal, Selasa 6 September 2016

Meski sekolah tersebut hanya beratap terpal, namun semangat siswa dalam belajar tetap mengepal. Bahkan para guru tidak surut tekadnya untuk mengajar, meskipun mendapat imbalan dengan hasil yang tak wajar.

“Mereka hanya digaji sebesar Rp 225.000 per tiga bulan. Tapi karena ingin mengamalkan ilmunya, mereka sukarela dalam mengajar,” tambahnya.

“Anak-anak yang akan tamat sekolah berpikir ke mana akan melanjutkan sekolah. Saya bilang pada mereka untuk tunggu. Pemerintah akan lihat, pemerintah tidak tidur. Keinginan mereka besar untuk sekolah, meskipun rata-rata sebagai anak petani, begitu pulang sekolah mereka kerja jadi petani tembakau,” sambungnya.

Seorang guru SMP Satap 4, Susnia Susilawati,S.Pd mengatakan banyak suka duka mengajar di sekolah beratap terpal tersebut. Meskipun setiap harinya harus berangkat dari rumahnya di Sakra, namun minat untuk menyalurkan ilmu sangat pantas diapresiasi.

Baca juga:  Pemprov Terjunkan 900 Mahasiswa Berantas Kemiskinan

“Suka citanya pasti ada, saya dari jauh, dari Sakra karena ingin lihat anak-anak maju makanya saya bertahan. Semangat mereka untuk sekolah cukup tinggi, biarpun banyak kendala. Kita lihat siswa semangat makanya kita juga semangat. Meskipun kalau ujian kita harus pindah di SMP 1 Suela,” ucapnya.

Alumni STKIP Hamzanwadi Selong ini mengungkapkan keadaan mereka yang setiap harinya harus bergantian menggunakan ruang kelas untuk belajar. “Kalau kelas 1 pulang jam 10.15 Wita, kita pindah di sana. Kita cari kalau ada kelas 5 yang olahraga kita pindah di sana,” ungkapnya.

Sementara di hari yang sama, Bidang Humas Polda NTB mengunjungi sekolah tersebut. Keadaan sekolah yang cukup memprihatinkan, membuat Mapolda NTB menyempatkan diri memberikan uluran tangan pada generasi harapan bangsa ini. Kabid Humas Polda NTB, AKBP Tri Budi Pangastuti menyemangati siswa-siswi untuk tetap giat mengejar mimpi.

Polda NTB memberikan bantuan alat tulis terhadap sekolah SD-SMP Satap 4 ini. Kepedulian ini menjadi pemantik agar banyak masyarakat tergerak hatinya untuk peduli terhadap sektor pendidikan. Karena untuk menjadi suatu imperium dunia, sektor pendidikan di Indonesia harus diprioritaskan. (szr)