MOS Konsep Baru Bisa Lahirkan Siswa yang Tidak Disiplin dan Manja

Mataram (suarantb.com) – Pelaksanaan Masa Orientasi Siswa (MOS) konsep baru yang tak lagi dilaksanakan OSIS dinilai kurang memberikan pendidikan kedisiplinan kepada siswa baru. Akibatnya dapat membentuk karakter siswa yang manja. Hal ini disampaikan Ketua OSIS di salah satu sekolah negeri di Kota Mataram, Salsabila.

Menurutnya MOS saat ini menjadikan siswa baru kurang bisa menyesuaikan diri dengan kondisi sekolah. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 18 Tahun 2016, keterlibatan OSIS dalam pelaksanaan MOS dibatasi, termasuk dalam memberikan tugas terhadap siswa baru.

Ia mengatakan pemberian tugas kepada siswa baru yang biasanya dianggap berat merupakan bentuk pembiasaan terhadap kondisi sekolah. Karena pada dasarnya, siswa yang beranjak ke jenjang pendidikan lebih tinggi akan merasa berat dengan tugas-tugas barunya, kecuali jika sudah dibiasakan di awal masuk sekolah melalui kegiatan MOS.

Namun penugasan yang dianggap memberatkan siswa baru justru tidak diperbolehkan. “Siswa-siswa baru sekarang jadi terlalu dimanja,” ungkapnya kepada suarantb.com, Kamis, 21 Juli 2016.

Salsabila menambahkan jika peraturan yang diberlakukan di sekolah terlalu banyak, maka tanggung jawab keluarga untuk membentuk mental kedisiplinan anak. “Jadi keluarga harus lebih berperan banyak daripada sekolah, karena sekolah sudah tidak bisa apa-apa. Nanti salah-salah malah dilapor ke polisi,” ujarnya.

Pernyataan tersebut dikuatkan pihak sekolah bidang kesiswaan, Enggar Rujiati. Menurutnya MOS tahun ini sangat memanjakan siswa. Panitia MOS dilarang memberikan sanksi kepada siswa yang melakukan pelanggaran dan menuruti hampir semua keinginan siswa.

“Jika ada siswa terlambat, kita persilakan masuk. Tidak boleh dihukum. Kan ada peraturannya. Padahal kan disiplin itu harus datang tepat waktu, harus berkumpul tepat waktu,” keluhnya.

Menurutnya, pelaksanaan MOS seperti itu justru menjadikan generasi yang cengeng dan tidak mandiri. Ia berharap jika sudah memasuki lingkungan sekolah, maka pendidikan siswa bisa dipercayakan sepenuhnya kepada pihak sekolah untuk membentuk anak menjadi pribadi yang lebih dewasa. “Jangan sampai ada anak yang melaporkan gurunya lagi hanya gara-gara dicubit,” harapnya. (rdi)