Penderita Penyakit Aneh di Bima Berharap Ditemui Gubernur

Bima (Suara NTB) –  Empat bersaudara penderita penyakit aneh di desa Rabakodo Kecamatan Woha, masing-masing Baharuddin (46), Sahruddin (44) Jasman (40) dan Sri Yati (36), selama ini menyimpan hasrat terpendam ingin bertemu dengan Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi.

“Berharap sekali kami bertemu dengan Bapak Gubernur,” harap Jasman kepada Suara NTB, Minggu, 18 Desember 2016.

Iklan

Keinginannya bertemu dengan Tuan Guru Bajang (TGB) ini bukanlah tanpa sebab. Pasalnya Jasman selama ini hanya melihat dan mengetahui sosok TGB itu di televisi dan diceritakan oleh beberapa orang yang mendatanginya.

“Saya sangat kagum dengan sosoknya yang Islami,” ujarnya.

Lagipula, dalam waktu dekat masa kepemimpinan TGB sebagai Gubernur NTB akan segera berakhir. Jasman berharap agar di sisa jabatannya itu dapat mengunjungi dan melihat langsung kondisi dia dan tiga orang saudaranya.

“Mudah-mudahan lewat Suara NTB ini harapan saya dan saudara saya bisa dibaca oleh Bapak Gubernur, sehingga bisa menemui dan membantu kami,” harapnya.

Sementara Baharuddin, menceritakan awal mula penyebab sakit tersebut. Menurutnya sejak lahir tidak memiliki kelainan apapun, tetapi mereka dilahirkan dalam keadaan normal. Bahkan pernah mengenyam bangku sekolah dasar. Hanya saja, tepat usia 10 tahun tubuhnya merasakan panas dingin.

“Selain demam, semua badan terasa kaku dan tidak bisa bergerak normal. Kaki dan tangan semakin lama semakin mengecil. Adik-adik saya juga tepat merasakan gejala ini tepat berusia 10 tahun,” katanya.

Adanya gejala itu, lanjutnya, orang tuanya kemudian membawanya ke dokter dan Rumah sakit. Bahkan sampai ke daerah Jawa, untuk diperiksa dan mengecek sakit itu. Akan tetapi pihak medis mengaku bahwa mereka tidak memiliki sakit apapun.

“Ke Jakarta juga sudah pernah dibawa, namun kata dokter tidak ada sakit. Saya juga bingung. Kalaupun kami sakit, kenapa bisa makan dan tidur nyenyak,” katanya.

Tidak bisa ditangani secara medis, pihak keluarga terus berusaha mencari jalan keluar dengan harapan mereka bisa sembuh dan kembali normal. Yakni mendatangi dukun untuk dilakukan pengobatan secara tradisional. Usaha itu sempat membuahkan hasil. Sayangnya karena terkendala biaya, pengobatan tidak dilanjutkan hingga sekarang.

“Uangnya tidak cukup, pengeluaran banyak sementara pemasukan tidak ada. Totalnya tidak terhitung jumlahnya berapa biaya selama pengobatan,” ujarnya.

Kini mereka hanya terbaring lemas di kasurnya dan dirawat oleh ibunya seorang diri. Menanti bantuan dari pemerintah dan belas kasih para dermawan. “Bantuan dari Dinsos baru tahun ini didapat, itupun hanya untuk dua orang adik saya. Dan pencairannya juga satu tahun tiga kali,” pungkasnya. (uki)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here