Penderita Kusta di NTB Terbanyak di Bima

Bima (Suara NTB) – Ratusan warga Kabupaten Bima tercacat menderita penyakit kusta pada tahun 2016 ini. Jumlah itu merupakan terbanyak dari 10 Kabupaten/Kota di Provinsi NTB. Bahkan tingkat penularannya di daerah setempat tergolong tinggi.

“Jumlahnya saya tidak ingat pasti namun lebih kurang 100 orang, dan terbanyak di NTB,’’ ucap Kabid Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Bima, Raodah, SST, Gz. M.Kes dikonfirmasi Suara NTB, Minggu, 23 Oktober 2016.

Iklan

Kata dia, dari ratusan orang yang terindentifikasi itu, sebanyak 95 persen di antaranya tergolong penderita ringan. Sementara sisanya tergolong berat, namun masih bisa disembuhkan dengan cara melakukan pengobatan rutin.

“Masyarakat tidak perlu khawatir dengan penyakit ini, sebab penyakit kusta bisa diobati. Dengan rutin memberikan obat selama dua minggu secara teratur,” katanya.

Menurut dia, tingginya temuan jumlah penderita kusta tersebut bukan berarti kegagalan program. Tetapi hal itu menunjukan efektivitas kinerja SKPD setempat dalam pemantauan lapangan yang berkomitmen memberantas kusta.

“Banyak kasus yang ditemukan akan mempermudah kita memberantasnya,” akunya.

Raodah menjelaskan penyakit kusta merupakan  suatu jenis penyakit menular yang disebabkan oleh sejenis kuman yang diberi nama mycobacterium leprae. Sasarannya menyerang syaraf tepi yang dapat menyebar ke kulit dan juga ke jaringan yang lainnya. Seperti pada mata, selaput lendir saluran pernafasan bagian atas, otot, tulang, dan testis.

“Seseorang yang mengalami penyakit kusta, memiliki tanda bercak merah, bercak putih pada kulit tubuhnya,” ujarnya.

Dia mengakui tantangan memberantas kusta, akibat banyaknya masyarakat yang tidak mengetahui tanda dini penyakit itu. Di samping kurangnya dukungan lintas program dan lintas sektor serta faktor lainnya seperti kondisi geografis daerah yang sulit diakses

“Untuk itu kami berharap kepada semua pihak, jika menemukan penderita penyakit ini agar segera melaporkan pada petugas kesehatan baik yang berada di Kecamatan maupun di tingkat Kabupaten sehingga bisa ditindaklanjuti segera,” pungkasnya.

Telantar

Sementara itu, aktivitas Rumah Sakit (RS) Kusta yang berlokasi di Desa Panda Kecamatan Palibelo, terlihat tidak terawat. Bahkan dikhawatirkan bangunannya akan rubuh karena konstruksinya telah lapuk dan lusuh. Menurut Raodah, di Bima tidak ada RS maupun puskesmas khusus menangani penyakit kusta.

Bangunan yang di Palibelo itu berupa Puskemas Pembantu (Pustu) yang ada sejak zaman orde baru. Hanya saja seiring perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, bahwa penderita kusta dapat disembuhkan tapi diperlukan penanganan yang cukup insentif, sehingga Pustu itu tidak diaktifkan.

“Sekarang tidak ada lagi diskriminasi, penderita kusta tetap bisa ditampung di Puskesmas umum dan RSUD,” katanya.

Raodah mengaku, perkampungan kusta juga telah lama dihilangkan, karena penderitanya telah ditangani dan sembuh bahkan sebagian kembali pada keluarga.

Hanya saja, tidak dipungkiri masih ada sebagian yang berada di perkampungan tersebut, karena sudah nyaman dan tidak memiliki sanak keluarga. Apalagi di luar mereka kerap dikucilkan atau dijauhi lantaran stigma penyakit yang dialaminya.

“Sekarang tidak akan ada lagi penderita yang dibawa ke perkampungan ini,” ujarnya. (uki)