Penderita Gizi Buruk di Kawasan Senggigi Meningkat

Kepala UPT Puskesmas Meninting,  Rosmayadi (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Penderita gizi buruk di sejumlah desa di kawasan wisata Senggigi Kecamatan Batulayar meningkat. Berdasarkan data UPT Puskesmas Meninting, tahun lalu ada 2 balita gizi buruk, namun tahun ini mengalami peningkatan 3 balita, satu balita di antaranya meninggal dunia. Kasus gizi buruk ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain menyangkut perilaku, lingkungan dan pola asuh. Selain itu ada faktor penyakit bawaan dari lahir. Untuk menangani masalah gizi ini, pihak puskesmas di-back up oleh desa melalui Program Makanan Tambahan (PMT).

Kepala UPT Puskesmas Meninting,  Rosmayadi, S.KM, M.Ph., menjelaskan, balita yang terkena gizi buruk tahun lalu didominasi penyakit kelainan bawaan. Sementara tiga balita gizi buruk temuan bulan Januari 2019 merupakan temuan baru, satu balita di antaranya meninggal.

Iklan

Untuk penanganan dua balita gizi buruk yang ditemukan, pihaknya sudah bekerjasama dengan Lombok Care. Penanganan terhadap  balita ini jelas dia secara intens. Pihaknya memberikan berbagai obat dan  PMT, asupan gizi untuk memulihkan status gizi buruk balita ini.

Menurutnya, ada dua faktor memicu gizi buruk yakni sensitif dan spesifik. Faktor sensitif, jelasnya, 70 persen dipicu perilaku, lingkungan dan pola asuh. Sedangkan dari faktor kesehatan minim sekali. Kalau orang tua kurang berperan aktif posyandu agak susah dideteksi dan pihaknya pada bulan tertentu memprogramkan bulan timbangan.

Lebih juh kata dia, dalam hal penanganan masalah gizi pihaknya menuai kendala di daerah terpencil, karena jarak rumah warga yang satu dengan yang lain jauh-jauh. Sementara posyandu dilaksanakan di satu tempat, sehingga ada saja yang kemungkinan kehamilan dan kelahiran tidak terdeteksi.

Untuk mendeteksi semua kehamilan dan kelahiran, selain melalui para kader  pihaknya juga bekerjsama dengan dusun dan desa. Sebab petugas kader tidak mungkin mengetahui semua, sedangkan kadus biasanya mengetahui detail di lapangan, sehingga diharapkan menginformasikan ke puskesmas.  Saat ini, pihaknya melakukan bulan penimangan balita yang menjadi program dinas kesehatan. Penimbangan ini dilakukan untuk mengetahui status gizi anak dan balita. Karena itu ia berharap semua balita ditimbang. Kalaupun nanti ada yang tak datang, pihaknya akan berupaya menjemput ke tempat tinggal. Setelah mengetahui status gizi ini, pihaknya secara intens memberikan PMT selama 90 hari bagi balita berstatus gizi kurang. Dalam pemberian PMT ini pihaknya dibantu juga oleh desa. “Sudah banyak desa menyiapkan dana desa untuk kesehatan, termasuk PMT ini,” ujarnya. (her)