Penderita DBD di Mataram Meningkat

Petugas kesehatan melakukan pengasapan (fogging) di Lingkungan Kebun Duren, Kelurahan Selagalas, Kecamatan Sandubaya, Kamis, 20 Februari 2020. Kasus DBD di Kota Mataram semakin meningkat. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Penderita deman berdarah dengue (DBD) akibat gigitan nyamuk aedes aegypti di Kota Mataram terus meningkat. Kota Mataram menjadi daerah kedua tertinggi setelah Kabupaten Lombok Barat. Pencegahan harus segera dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit mematikan tersebut.

Data Dinas Kesehatan NTB, penderita DBD sebanyak 525 orang. Paling banyak kasus DBD terjadi di wilayah Kabupaten Lombok Barat dengan 200 lebih kasus. Lalu, disusul Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Timur.

Iklan

Menanggapi hal tersebut, Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh menegaskan, pihaknya jauh-jauh sebelumnya telah mengingatkan masyarakat untuk mengantisipasi ganasnya gigitan nyamuk aedes aegepty penyebab deman berdarah. Tak bisa dipungkiri siklus tahunan menjadi ancaman, sehingga terus diprogramkan pencegahan.

“Dari dulu memang sudah kita ingatkan,” kata Walikota ditemui usai membuka acara Musyawarah Pembangunan Bermitra Masyarakat (MPBM) tingkat Kecamatan Selaparang, Kamis, 20 Februari 2020. Sebagai daerah dengan kasus DBD kedua tertinggi di NTB, Walikota memerintahkan Dinas Kesehatan mengambil langkah-langkah antisipasi pencegahan penyakit mematikan tersebut.

Ahyar segera berkoordinasi dengan camat dan lurah mengingatkan kembali warga supaya bersinergi membersihkan lingkungan. “Camat dan lurah penting mengimbau masyarakat melaksanakan program seperti bersih-bersih genangan di depan rumah dan dalam rumah,” ungkapnya.

Petugas kesehatan rutin melakukan pengasapan (fogging) terutama di titik-titik dinilai rawan penyebaran. Langkah ini mengantisipasi penyebaran dan berkembangbiaknya jentik nyamuk.

Dikonfirmasi terpisah, petugas kesehatan di Puskesmas Cakranegara mengaku, pasien terdiagnosa menderita DBD setiap hari meningkat. Bahkan, ruang darurat dipenuhi oleh warga yang terjangkit DBD. Bahkan, satu pasien dipindahkan ke Puskesmas Karang Taliwang karena ruangan penuh.

“Satu orang kemarin dipindah ke Puskemas Karang Taliwang,” sebut perawat yang enggan dikorankan identitasnya. Dia mengaku, kewalahan menangani penderita DBD. Bagaimanapun juga, ia melayani pasien sesuai standar operasional prosedur. (cem)