Pendapatan Petani Perkebunan Masih Jadi PR

0
Kadis Pertanian dan Perkebunan NTB, Muhammad Riadi menunjukkan panen jagung yang harganya cukup baik dan mempengaruhi NTP NTB.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis nilai tukar petani. Dari sejumlah sub sektor pertanian, pendapatan petani perkebunan yang belum mengalami perubahan. Masih besar biaya yang dikeluarkan, dibanding nilai jual produksinya. Berdasarkan rilis yang disampaikan Kepala BPS Provinsi NTB, Wahyudin, Senin, 3 Januari 2022, disampaikan.

Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan pada 8 kabupaten di Provinsi NTB pada Desember 2021, (Nilai Tukar Petani) NTP Provinsi NTB naik 1,08 persen dibandingkan NTP November  2021, yaitu dari 105,73 menjadi 106,88. Kenaikan NTP pada Desember 2021 disebabkan  oleh tingginya kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun biaya produksi dan penambahan barang modal.

IKLAN

Kenaikan NTP Desember 2021 dipengaruhi oleh naiknya NTP di dua subsektor pertanian, yaitu Subsektor hortikultura sebesar 13,01 persen, dan Subsektor Perikanan sebesar 1,44. Sementara itu, NTP pada dua subsektor lainnya mengalami penurunan yaitu Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,62 persen, dan Subsektor Peternakan sebesar 0,42 persen. Sedangkan NTP untuk subsektor Tanaman Pangan tidak mengalami perubahan dibandingkan bulan sebelumnya.

Berdasarkan NTP Bulan Desember 2021 mengalami kenaikan sebesar 1,08 persen bila dibandingkan dengan NTP November 2021 yaitu dari 105,73 menjadi 106,88. Hal ini disebabkan karena kenaikan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 1,89 persen sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan yang lebih kecil yaitu sebesar 0,79 persen.

Kemampuan daya beli petani di  Provinsi NTB pada 4 subsektor berada di atas 100 (cukup baik) yang terdiri dari Subsektor Perikanan yaitu 113,56; Subsektor Peternakan yaitu 108,18; Subsektor Tanaman Pangan yaitu 107,74 dan Subsektor Hortikultura yaitu 105,64. Sedangkan subsektor lainnya memiliki kemampuan daya beli yang rendah atau NTP di bawah 100 yaitu SubsektorTanaman Perkebunan Rakyat yaitu dan 93,35.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Muhammad Riadi mengatakan, kencenderungan tidak bergeraknya NTP petani perkebunan, lebih karena masa panen komoditas perkebunan yang cenderung lama. Produksi juga hanya setahun sekali. Padahal, harga komoditas perkebunan ini cukup menjanjikan.

Misalnya, kopi, vanili, demikian juga kelapa. Termasuk cokelat. “Nanti kita akan koordinasi dan diskusikan lagi dengan BPS, dimana persoalannya. Dan bagaimana pemecahan masalahnya,” katanya. Disisi lain, yang menggembirakan adalah kenaikan NTP Hortikultura yang selama ini selalu dibawah 100. Artinya, petani merugi. Karena biaya yang dikelaurkan, lebih besar dibanding harga yang diterima.

Riadi mengatakan, kenaikan NTP hortikultura ini tidak lepas dari kenaikan harga beberapa diantaranya. Misalnya bawang merah, tomat, dan sayur. Dimana pada waktu-waktu tertentu harganya turun. Namun di waktu-waktu tertentu juga harganya naik signifikan. “Kalau dihitung rata – rata setahun, terjadi kenaikan pendapatan petani hortikultura. Ini kita patut syukuri, karena petani bisa menikmati harga,” imbuhnya.

Sementara itu, untuk komoditas buah, juga mengalami kenaikan pendapatan. Hal ini didorong karena naiknya harga-harga. Misalnya mahalnya harga mangga, kemudian mahalnya harga durian dibandingkan tahun lalu. “Semoga dalam tiga bulan kedepan tetap nikmati harga, sama kayak jagung juga harganya naik,” demikian Riadi. (bul)