Pendapatan Petani Hortikultura Paling Anjlok

Mataram (Suara NTB) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Senin, 3 Juli 2017 kemarin secara resmi merilis Nilai Tukar Petani (NTP). Diketahui, NTP petani hortikultura paling anjlok dibanding yang lainnya.

Secara umum, Kepala BPS Provinsi NTB, Ir. Endang Triwahyu Ningsih, MM memaparkan, pendapatan petani (NTP) umumnya bulan Juni 2017 mengalami peningkatan sebesar 0,68 persen bila dibandingkan dengan NTP Mei 2017 yaitu dari 104,37 menjadi 105,09.

Iklan

Hal ini disebabkan pendapatan yang diterima petani (It) meningkat sebesar 1,23 persen dan biaya yang dikeluarkan petani (Ib) juga meningkat sebesar 0,55 persen.

Kemampuan daya beli petani di provinsi ini pada tiga subsektor berada di atas 100 (cukup baik). Terdiri dari sub sektor Tanaman Pangan (104,98) sub sektor Peternakan (120,55) dan subsektor Perikanan (105,28).

Sedangkan subsektor lainnya memiliki kemampuan daya beli yang rendah atau NTP di bawah 100 yaitu, sub sektor Perkebunan Rakyat (93,32) dan subsektor Hortikultura (90,20).

Pada Bulan Juni 2017 NTPP mengalami peningkatan sebesar 0,80 persen, hal ini karena tingkat peningkatan indeks yang diterima petani sebesar 1,36 persen lebih tinggi dari peningkatan indeks yang dibayar petani sebesar 0,55 persen.

Indeks harga yang diterima petani sub kelompok Padi dan Palawija mengalami peningkatan masing-masing sebesar 1,59 persen dan 0,79 persen yang disebabkan meningkatnya harga mangga, gabus, kangkung, kunyit, bawang merah, sawi hijau, beras ketan, kacang kedelai, kelapa tua, gula merah, sawo, kacang panjang, terung, ketela rambat, lada/merica, jagung ontongan muda, ketela pohon, kacang tanah, kemiri.

Sementara biaya yang dikeluarkan meningkat disebabkan beberapa hal, konsumsi rumah tangga, harga bibit dan biaya produksi lainnya.

Sementara untuk Nilai Tukar Petani Subsektor Hortikultura (NTPH) pada bulan Juni 2017 mengalami penurunan sebesar (0,57 persen). Hal ini karena pendapatan yang diterima petani lebih kecil bila dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan petani yaitu masing-masing sebesar 0,11 persen dan 0,68 persen.

Pendapatan yang diterima untuk sub kelompok sayur-sayuran mengalami peningkatan sebesar 0,26 persen yang disebabkan meningkatnya harga bawang merah, petai/sawi, kacang panjang, kol/kubis, kangkung.

Sedangkan biaya yang dikeluarkan petani, kata Endang untuk sub kelompok buah-buahan mengalami penurunan sebesar (0,10 persen) yang karena turunnya harga sawo, pisang, melon, duku. Sementara tanaman obat tidak mengalami perubahan/tetap.

Terjadinya pembengkakan biaya yang dikeluarkan oleh petani hortikultura, menurutnya lebih  disebabkan oleh meningkatnya biaya obat-obatan dan biaya produksi serta perawatan.

“Sebenarnya pendapatan usahanya bagus, 96, hampir 100, bila dikeluarkan kebutuhan rumah tangga. Selain itu, rendahnya harga-harga komoditas hortikultura juga menyumbang rendahnya pendapatan petaninya,” demikian Endang.

Untuk Nilai Tukar Petani untuk sub sektor perkebunan rakyat (NTPR) terjadi peningkatan sebesar 0,21 persen, hal ini karena yang didapat petani sebesar 0,80 persen lebih tinggi dari yang dibayarkan tingkat peningkatan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,58 persen.

Peningkatan indeks yang diterima petani disebabkan meningkatnya harga hasil produksi perkebunan rakyat antara lain kelapa, kemiri, jarak, pinang dan tembakau.

Sementara untuk pembiayaan, pembengkakan biaya petani perkebunan rakyat disebabkan oleh meningkatnya indeks Konsumsi Rumah Tangga dan Indeks BPPBM masing-masing disebabkan meningkatnya harga KCL, parang, sewa sprayer, cangkul, biaya service motor upah menuai/memanen, sprayer, NP/NPK, sewa lahan ladang, sewa traktor tangan. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional