Pendakian Tambora Bisa dengan Kendaraan

Dompu (Suara NTB) – Mendaki Tambora tidak hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki. Rupanya, untuk menikmati keindahan kaldera raksasa tersebut pengunjung kini dapat menempuhnya dengan alat transportasi, terutama bagi wisatawan minat khusus.

Humas Balai Taman Nasional Tambora (TNT) Kabupaten Dompu, Dedi Aminudin membenarkan bahwa untuk mencapai kaldera tambora tidak hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki dan menghabiskan waktu berhari-hari. Tetapi cukup mengemudi kendaraan roda dua atau empat kawah bekas letusan dahsyat 1815 itu dapat dinikmati wisatawan.
“Kalau mau melihat kaldera bukan hanya saja kita jalan kaki, punya kendaraan silahkan pakai kendaraan,” kata dia kepada Suara NTB, Kamis, 12 April 2018.

Iklan

Dengan ditawarkannya pendakian memakai kendaraan ini setiap pengunjung tanpa batasan usia akan bisa menikmati keindahan kaldera tambora. Juga, menjadi sumber pendapatan masyarakat setempat, khususnya di jalur Doro Ncanga dan Piong.

Pengunjung di dua jalur tersebut, lanjut dia, cukup menempuh waktu 3 jam dengan kendaraan sudah bisa sampai pos tiga, tinggal dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 1 jam lebih untuk sampai kaldera raksasanya.

Berbeda halnya dengan berjalan kaki yang akan menghabiskan waktu berhari-hari. Kendati begitu, tidak semua kendaraan bisa dimanfaatkan untuk pendakian jenis ini, melainkan hanya kendaraan tertentu seperti motor trail.

“Bisa ditempuh dengan jalur kendaraan ada dua, Piong dan Doro Ncanga. Kalau dari Doro Ncanga sampai pos tiga diparkir disitu kedaraanya minimal 1 jam setengah lanjut jalan kaki sudah sampai puncak. Daripada lewat Pancasila mulai dari bawah sampai atas kan jalan,” ungkapnya.

Dedi Aminudin mengatakan, dengan mudahnya masyarakat menikmati kaldera tambora tersebut kekhawatiran akan kerusakan lingkungan memang ada. Namun hal itu diantisipasi pihaknya dengan menata managemen pendakian, seperti jalur yang ditempuh cukup satu dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan biasa.

Dan masyarakat diharapkan segera membentuk kelompok penyedia jasa wisata guna menunjang salah satu upaya mengembangkan tambora tersebut. Diakui, hingga saat ini sudah banyak pengunjung yang mendaki menggunakan kendaraan, terutama roda dua. Sementara untuk roda empat masih minim lantaran biaya sewanya cukup mahal, yakni Rp 4 juta.

“Kalau kendaraan roda dua tidak pasti tegantung pemilik kendaraan, kadang Rp200 ribu kadang Rp300 ribu. Tapi intinya kita dari taman nasional akan mengatur itu,” pungkasnya. (jun)