Pendakian Rinjani Dibuka 7 Juli

Dedy Asriady  (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB dan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) bersiap membuka kembali aktivitas pendakian dan pariwisata di dalam kawasan TNGR. Pembukaan tersebut direncanakan mulai 7 Juli mendatang.

Kepala BTNGR, Dedy Asriady, menerangkan berdasarkan pertemuan yang dilakukan pihaknya dengan stakeholder terkait beberapa waktu lalu telah disepakati beberapa hal. Antara lain pembukaan resmi yang akan mengikuti peraturan pemerintah pusat. Di mana pembukaan hanya dapat dilakukan di wilayah dengan risiko kasus virus corona (Covid-19) rendah.

Iklan

“Itu boleh dibuka tergantung dari kondisi daerah, hijau atau kuning. Minimal risikonya. Tergantung daerah masing – masing. Jadi prinsipnya, kita akan buka tergantung kondisi daerah. Khusus untuk rinjani, kita sudah lakukan perbaikan jalur,” jelas Dedy.

Diterangkan, sampai saat ini NTB secara resmi belum memiliki wilayah dengan risiko rendah. Dibuktikan dengan surat keputusan masing-masing kepala daerah di tiga kabupaten yang menjadi jalur pendakian Gunung Rinjani dengan memenuhi 15 indikator kesehatan yang disyaratkan.

Di sisi lain, pendakian Gunung Rinjani setelah pandemi diakui memiliki beberapa keistimewaan. Di antaranya jalur pendakian menuju puncak dan Segara Anak yang sudah dibuka, serta penambahan dua jalur baru sebagai jalur resmi.

“Sebelumnya kan itu ditutup. Sekarang sudah boleh ke puncak dan Segara Anak, ini kan kabar baik. Selain itu, kita juga ada penambahan jalur pendakian. Sebelumnya 4, sekarang jadi 6 dengan diresmikannya jalur Propok dan Torean,” ujar Dedy.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) NTB, Lalu Moh. Faozal, menerangkan pendakian Gunung Rinjani merupakan salah satu aktivitas wisata andalan yang akan disiapkan menuju kenormalan baru pariwisata di NTB. Terutama melihat pengaturan protokol kesehatan yang diproyeksikan dapat lebih mudah dilakukan.

  Penyediaan Huntap, Kunci Utama Percepat Pemulihan Ekonomi NTB

Menurut Faozal, pihaknya bersama dengan BTNGR telah menyepakati beberapa protokol. Diantaranya pengaturan batas jumlah pendaki hingga 30 persen dan pengaturan waktu pendakian yang hanya dibolehkan selama 9 jam.

“Kemarin kita sosialisasi dan simulasi sebelum dibuka (pendakian) 7 Juli mendatang dengan one day tour, jadi belum boleh menginap. Itu maka CHS akan hadir di destinasi Rinjani,” ujar Faozal. Beberapa aturan yang harus dipenuhi untuk melakukan pendakian di Rinjani nanti antara lain pemeriksaan kesehatan di 4 jalur, yaitu Sembalun, Senaru, Aik Berik, dan Timbanuh. (bay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here