Pendaki Dugem, TNGR Tutup Savana Propok

Tangkapan layar aktivitas dugem yang dilakukan oleh segerombolan pendaki di Savana Propok, baru-baru ini.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Ulah gerombolan pendaki yang dugem di Savana Propok, Lombok Timur baru-baru ini berbuntut panjang. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) pun bertindak tegas. Mereka memutuskan menutup lokasi perkemahan itu mulai Rabu, 5 Agustus 2020.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Dedy Asriady, menerangkan penutupan seluruh aktivitas wisata, termasuk pendakian dan perkemahan di Savana Propok adalah solusi satu-satunya untuk situasi saat ini. Mengingat aktivitas dugem layaknya di diskotik itu dinilai sudah melampaui batas.
Apalagi, tindakan itu dilakukan secara beramai-ramai dan cukup berisiko bagi kepentingan umum.

Iklan

“Solusinya cuma satu, kita akan tutup karena pelanggarannya itu kategori yang bisa membuat klaster baru. Itu protokol covidnya dalam implementasinya di hari itu tidak dijalankan,” jelas Dedy saat dikonfirmasi, Selasa, 4 Agustus 2020.

Diterangkan, pada 1 Agustus 2020 lalu pengelola Savana Propok mendapati segerombolan pendaki yang melakukan aksi yang tidak pantas. Mereka memutar musik dengan volume sangat tinggi, kemudian menari bersama, laki dan perempuan. Aksi tersebut juga terekam dalam sebuah video amatir yang kemudian tersebar di media massa.

Dalam video yang beredar tersebut, terlihat segerombolan pendaki beramai-ramai menyalakan senter kemudian serentak berjoget diiringi musik dengan volume sangat keras.

Selain tidak pada tempatnya, ulah para pendaki yang dugem tersebut dinilai telah melanggar etik dan protokol kesehatan yang direkomendasikan dalam pembukaan destinasi wisata alam dalam kawasan TNGR tersebut.

Dengan bergerombolnya para pendaki tersebut, dikhawatirkan kembali meningkatkan eskalasi kasus dan potensi penularan virus corona (Covid-19).

“Insiden terakhir beberapa hari yang lalu itu ada satu kejadian yang teridikasi pengunjungnya tidak mematuhi protokol covid. Langkah yang kita lakukan kita akan tutup mulai besok, kemudian kita akan evaluasi bersama bareng pemerintah daerah, pokdarwis, dan TNGR,” jelas Dedy.

Diterangkan, dalam pembukaan destinasi wisata tersebut sebelumnya pihak TNGR sebenarnya telah melakukan kemajuan untuk pertama kali. Yaitu dengan melibatkan kelompok masyarakat yang tergabung dalam Pokdarwis untuk melakukan pengelolaan.

Keterlibatan Pokdarwis tersebut juga diresmikan dengan pemberian izin tertulis oleh BTNGR. Namun dengan insiden yang terjadi, pengelolaan Savana Propok oleh Pokdarwis tersebut akan dievaluasi.

“Dalam hal manajemen, pelanggaran seperti itu akan kita evaluasi. Kita tidak akan ekstrem mencabut izinnya, tapi ada pembinaan internal yang kita lakukan. Apalagi yang mengelola ini adalah masyarakat,” ujar Dedy. Menurutnya, pengelolaan destinasi wisata dalam kawasan TNGR ke depan harus lebih diperketat lagi. Terutama memperhatikan aspek keamanan, kenyamanan, dan keselamatan.

“SOP untuk screening (pengecekan) alat-alat yang dapat menimbulkan kebisingan di sepanjang pendakian, kita akan minta Pokdarwis memperketat itu di pintu masuk,” jelasnya. Dengan ditutupnya kembali Savana Propok, pihaknya berharap dapat dijadikan bahan pembelajaran agar pengelola dan pendaki sama-sama memperhatikan aspek tanggung jawab terkait protokol dan aturan yang diberlakukan. (bay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here